Tuesday, July 10, 2018
Tradisi Hafalan dalam Studi Islam di Nusantara
Oleh: Ustadzah Menata Hati dan Beberapa Penambahan tulisan oleh Muhammad Arief Junaydi
Ada banyak cara atau metode yg diterapkan di setiap pesantren di Nusantara dalam menggembleng dan mencetak generasi emas para penerus Ulama yg mapan yg tertanam kepada jiwa setiap santri di pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah di Nusantara begitupula hukuman bagi para santri yg tidak hafal juga bermacam-macam tergantung dari jenis atan fan ilmu yg mereka pelajari.
Rasulullah SAW Memberikan motivasi bagi para Hafizh dan para pencari ilmu, khususnya mereka yg mendalami ilmu Qur'an dan ilmu Hadits.
Melalui Sabda beliau SAW:
عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِي رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «تَعَاهَدُوا القُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Musa al-Asy’aridari Nabi beliau bersabda, “Jagalah (hafalan) al-Quran, karena demi Allah Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia lebih cepat hilang daripa onta yang terikat.” (HR. al-Bukhari: 5033 dan Muslim)
وَعَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ؛ إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا، وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ» رواه البخاري ومسلم
Dari Nafi’ dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma (dia berkata): Rasulullah bersabda, “Penghafal al-Quran itu bagaikan pemilik onta yang terikat; jika dia menjaganya maka dia tetap memilikinya, namun jika dia melepasnya maka onta itu akan pergi.” (HR. al-Bukhari: 5031, dan Muslim: 789)
Dalam Muqoddimah kitab Al-Hatssu 'Ala Hifdzil Ilmi, Al-Hafidz Ibnul Jauzy, menerangkan bahwa salah satu kekhususan ummat Muhammad, adalah daya hafalnya, tidak ada ummat2 terdahulu yang hafal kitab sucinya, kecuali ummat Muhammad. Bahkan saking langkanya orang yang hafal jaman dulu, ketika Uzair mampu menghadirkan Taurat dari hafalannya, mereka berseru; “ini pasti anak tuhan!”. Lalu bagai mana dengan ummat kita, bukankah banyak anak berumur 7 tahun sudah mampu hafal al-Quran?
Kita juga melihat, betapa hanya ummat Muhammad, yang perkataan nabinya diriwayatkan turun temurun dari mulut ke mulut dengan kekuatan hafalan tiada tanding.
Tapi masa itu telah berlalu, maka, ketika beliau melihat kemalasan mulai menghantui pemuda-pemuda muslim, beliau karanglah kitab yang luar biasa ini.
Diantara isinya di bab 4, bahwa ternyata kekuatan hafalan yang dihasilkan generasi-generasi sebelumnya, bukanlah karena kejeniusan yang luar biasa, tapi karena keuletan, kegigihan, kerjakeras, pantang menyerah dan lain sebagainya.
Diriwayatkan, bahwa Imam as-Shirazy, mengulang pelajarannya 100 kali, Al-kaya mengulang 70 kali, Imam Hasan al-Naisaburi, baru hafal setelah mengulang-ulang sebanyak 50 kali. Dan banyak lagi cerita-cerita ulama dalam menghafal ilmu dengan kesungguhan yang menakjubkan.
Kemudian Imam Hasan bercerita, ada seorang faqih, yang selalu mengulang2 hafalan dirumahnya, saking seringnya ia menghafal, sampai-sampai seorang nenek tua di rumahnya mengaku hafal apa yang diulang2 oleh si Faqih, ketika disuruh mengulang, memang betul nenek tua itu mampu mengulang hafalan si Faqih. Tetapi, setelah hari berlalu, si Faqih meminta kembali nenek itu untuk menghadirkan kembali hafalannya, dan dia tidak mampu lagi menghafalnya. “Itulah sebabnya aku mengulang-ulang hafalan, ujar si faqih, agar aku tidak tertimpa oleh lupa yang menimpamu”.
Bahkan jika kita banyak mempelajari kisah-kisah para ulama-ulama sepuh NU khusunya yg pernah belajar ke Syaikhuna Kholil bin Abdul Lathif Bangkalan seperti; Hadrotussyekh Hasyim Asy'ari dan Syaikhuna As'ad Syamsul 'Arifin yg begitu luas biasa karena keilmuan beliau didorong oleh karomah do'a Mbah Kholil Bangkalan. Sehingga Mbah Hasyim dan Mbah As'ad menjadi pilar dan tokoh vital dalam Nahdlatul Ulama.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita
Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...
-
Berikut ini adalah wejangan Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki. 1. Siapa saja yang memiliki kitab wiridku, berarti ia telah mendapatk...
-
Kuncine Ngaji Al Qur'an iku ono telu: 1. Ojo nyawang sopo gurune (Jangan melihat siapa gurunya) 2. Ora usah isin karo umur (Jang...
-
Oleh Suryono Zakka Walau telah sekian lama NKRI berdiri, Walau sudah sekian lama kita merdeka, namun upaya-upaya untuk merongrong kedaulatan...
-
Oleh Suryono Zakka Ada orang yang beragama namun hilang kemanusiaannya. Mati rasa sifat kasih sayangnya. Sumpah serapah keluar dari lisan...
-
Soeharto Lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921. Ia lahir dari keluarga petani yang menganut Kejawen. Keyakinan keluarga...
-
Alkisah, K.H. Muhammad Arwani disuruh ayahnya, KH. Amin, untuk mengantarkan adiknya, KH. Da`in Amin, untuk mentashihkan bacaan tahfidz Qu...
-
KH NACHROWI THOHIR - BUNGKUK SINGOSARI (1900 -1980): PENDIRI NU, PELOPOR LEMBAGA PENDIDIKAN MA'ARIF NU “Ketahuilah, bahwa kelak, su...
-
Tidak banyak yang tahu kalau Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sudah menyiapkan Undang-undang Dasar (UUD) Negara Khilafah, mereka sudah memut...
-
Oleh Suryono Zakka Hal inilah yang menjadi perbincangan terutama warga NU, baik yang merespon positif maupun negatif. Menyikapi keputusan...
-
Oleh: Abdul Wahab Ahmad. Hukum itu ditentukan oleh *Allah dan Rasulullah* saja. Keduanya disebut *Syari*. Tak ada pihak ketiga dalam hal ...

No comments:
Post a Comment