Saturday, September 28, 2019
Karakter Santri NU, Santri Wahabi dan Santri Khilafah
Santri NU
Santri NU itu kuat akidah Aswajanya, mantap ilmu syariatnya serta mendalam ilmu tasawufnya. Berilmu tinggi namun tetap rendah hati. Luas pengetahuannya namun tetap berakhlak. Semakin mendalam ilmu agamanya maka semakin dalam pula cinta tanah airnya. Mewarisi ilmu, akhlak dan sanad dari para ulama pendahulu.
Memiliki semangat bertoleransi pada sesama. Tak hanya mengenal ukhuwah islamiyah namun juga mantap dalam ukhuwah wathaniyah dan kokoh dalam ukhuwah insaniyah. Tak hanya menjalin persaudaraan seagama namun juga bersaudara dalam ikatan kebangsaan serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Ciri khas santri NU adalah berdakwah dengan santun dan moderat. Alon-alon penuh kelembutan. Membela kebenaran dan keadilan bukan sebatas identitas agama. Siapapun yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan maka wajib dibela apapun agamanya.
Santri Wahabi
Santri ideal produk Wahabi adalah santri yang garang. Siap mengkafirkan, menuduh sesat dan memusyrikkan umat Islam yang berbeda pemahaman. Jika lidahnya belum fasih dan lantang teriak bid'ah maka kewahabiannya masih tanggung atau perlu mondok lagi. Perlu dikader lagi agar menjadi santri Wahabi yang militan.
Santri top ala Wahabi adalah santri yang sibuk mengajak umat Islam kembali pada Al-Qur'an dan sunnah dengan penuh kebutaan tanpa bimbingan ulama kecuali hanya modal terjemahan. Santri Wahabi mengajak kembali karena mereka sadar pernah tersesat sehingga harus segera kembali. Melarang taklid kepada ulama dan imam madzhab namun mengajak taklid kepada tokoh idolanya yakni Muhammad Bin Abdul Wahab, Albani, Ibnu Taimiyah dan Bin Baz serta tokoh sealirannya.
Santri Wahabi dikader siap menumpas segala tradisi. Adat istiadat dan budaya apapun yang ada dimasyarakat tak peduli baik atau buruk, selama tidak pernah dilakukan oleh nabi dan sahabat harus ditumpas agar masyarakat kembali kemanhaj salaf sesuai pemahaman salafus shalih. Salafusshalih sesuai nalar Wahabi tentunya. Apapun yang berbau Nusantara harus disikat habis tanpa sisa.
Untuk menjadi santri yang alim luar biasa ala Wahabi tak perlu banyak ilmu atau pengetahuan luas, cukup paling keras teriak kafir dan paling sering teriak bid'ah maka cukuplah disebut ustadz atau ulama yang siap dipuja-puja.
Santri Khilafah
Santri ideal menurut kaum khilafah adalah adalah santri yang kemana-mana bawa bendera, kaos sablon serta aksesoris yang mereka sebut sebagai kalimat tauhid. Santri militan kaum khilafah adalah santri yang paling terdepan teriak thaghut, munafiqun dan rezim kafir.
Santri khilafah tulen harus pintar bertaqiyah alias menjadi bunglon. Mengaku Aswaja agar banyak yang kepincut. Warga NU Yasinan, santri khilafah ikut Yasinan. Pura-pura mengagumi Mbah Hasyim Asy'ari padahal alergi dengan NU dan Pancasila. Warga NU mengamalkan shalawat Asyghil, kaum Khilafah tidak kalah ketinggalan. Agar umat awam tertipu dengan muslihat busuknya. Mempolitisasi kalimat haq dengan tujuan batil.
Santri paling idola ala bani khilafah adalah santri yang siap mati untuk menggulingkan rezim. Siap menghujat dan nyinyir kepada pemerintah beserta simbol-simbol negara. Siap menegakkan panji khilafah ala minhajin nubuwwah tak peduli walau harus menumpahkan darah. Siapapun yang menghalangi berdirinya khilafah maka halal darahnya untuk dibunuh.
Akhirnya kita paham bahwa santri NU adalah santri tulen, santri pembawa rahmat bagi semua. Santri yang mampu menyatukan seluruh cinta dalam hidupnya yakni cinta Islam dengan setia menjaga akidah Aswaja, cinta nabi dengan meneladani akhlak santun nabi serta cinta tanah air dengan siap mengorbankan jiwa dan raga untuk NKRI.
Maka jadilah santri NU! Jangan menjadi santri Wahabi apalagi santri khilafah! Santri Wahabi jelas akan selalu merusak akidah Aswaja sedangkan santri Khilafah akan terus merongrong NKRI agar bubar dan dapat mendirikan negara khilafah. Yang jelas, santri Wahabi dan santri Khilafah bukan membawa berkah tapi membawa musibah.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita
Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...
-
Sejarah mencatat kemerosotan kemegahan Majapahit seiringan dengan bertambah banyaknya masyarakat memeluk Islam, bahkan tidak sedikit dar...
-
Nazisme : paham yang memisahkan dan mempertentangkan manusia ke dalam polaritas ras Arya Jerman & ras non Arya. Paham ini membawa dun...
-
Tawasul adalah salah satu jalan dari berbagai jalan tadharru’ kepada Allah. Sedangkan Wasilah adalah setiap sesuatu yang dijadikan oleh...
-
Oleh Suryono Zakka Suara NU sebagai suara mayoritas selalu dipertaruhkan dalam arena politik terutama dalam Pileg dan Pilpres. Tak heran j...
-
Oleh Suryono Zakka Tanda-tanda Isim (علامة الاسم) ditandai dengan ciri-ciri berikut: 1. Bisa menerima i'rab jar, dikarenakan: -h...
-
Apakah Pengertian dari Aswaja rasa Wahabi (Asrabi)? Yaitu orang yang mengaku sebagai Ahlussunnah Wal Jama'ah (Aswaja) dan mengiku...
-
PENGERTIAN DAN DEFINISI AHLUSSUNNAH WALJAMAAH Ahlussunnah Wal Jamaah adalah aliran Islam terbesar yang prinsip dasar ideologinya adalah...
-
Ada yang menarik dari materi Bahtsul Masail Waqi’iyyah (Komisi A) Konferwil PWNU Jawa Timur 2018 yang berlangsung di PP Lirboyo, Kediri s...
-
Membahas NU memang tak pernah menjenuhkan. Ormas Islam moderat terbesar didunia ini (bahkan diakhirat) hobinya mengoleksi bid'ah beru...
-
Oleh Suryono Zakka Pengikut sekte Wahabi memang paling getol meneriakkan slogan anti bid'ah. Siapapun yang tidak sejalan dengan kelom...

No comments:
Post a Comment