Tuesday, March 27, 2018

Mengapa Ayat Al-Qur'an dihafal dan ditulis dalam Mushaf?


Oleh Suryono Zakka

Al-Qur'an adalah maha karya Allah swt. Tak satupun yang mampu mencipta dan menandinginya. Siapapun yang akan merusaknya pasti akan gagal. Siapapun yang akan memalsukan ayat-ayatnya, menambah dan mengurangi ayat maka pasti akan terungkap karena Al-Qur'an dijaga oleh umat Islam dibelahan bumi manapun sebagaimana Allah telah memberikan jaminan tentang keotentikan Al-Qur'an dalam surat Al-Hijr ayat 9 yang berbunyi: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an) dan Kami pastilah menjaganya.

Proses penjagaan Al-Qur'an sehingga senantiasa terjaga otentisitasnya hingga akhir zaman melalui dua hal yakni tulisan dan hafalan.

Al-Qur'an disebut dengan Al-Kitab karena tertulis dalam sebuah kitab atau tulisan. Disebut mushaf karena terdiri dari lembaran-lembaran yang ada tulisannya sehingga dapat dipegang. Dengan penamaan Al-Kitab maka Al-Qur'an diriwayatkan secara tertulis.  Tulisan Al-Qur'an inilah sebagai syahid atau saksi mengenai tulisan yang benar yang memiliki kaidah dan sumber yang original yaitu bersumber dari nabi.

Walau tulisan Al-Qur'an mengalami penyempurnaan-penyempurnaan tanda baca disetiap masanya, namun secara umum tulisan ayat Al-Qur'an tidak berubah. Dengan adanya bukti tentang tulisan Al-Qur'an dari masa kemasa dan adanya kaidah penulisan ayat Al-Qur'an yang sudah berstandarisasi maka Al-Qur'an selalu terjaga.

Itulah sebabnya, walau Al-Qur'an diterjemahkan keberbagai bahasa didunia namun tulisan standarnya tidak lupa untuk dicantumkan karena tulisan tersebut sebagai saksi tulisan yang benar dan pemersatu umat Islam dari kekacauan tulisan Al-Qur'an.

Menulis ayat Al-Qur'an tidaklah mudah karena ada metode dan kaidahnya. Al-Qur'an walau berbahasa Arab bukan berarti bahasa Arab biasa yang kosa katanya mudah dijumpai dalam teks-teks Arab namun bahasa Arab pilihan yang tidak semua orang Arab atau orang yang memahami bahasa Arab akan memahami bahasa atau tulisan Al-Qur'an.

Standarisasi penulisan Al-Qur'an terjadi dimasa khalifah Utman bin Affan yang kita kenal saat ini dengan mushaf atau Rasm Utsmani. Mushaf Al-Qur'an diberbagai negara saat ini mengacu kepada Rasm Utsmani sebagai bentuk pemersatu umat Islam.

Selain ditulis, Al-Qur'an juga dihafal. Walaupun hukumnya bukan fardhu ain melainkan fardhu kufayah bagi mereka yang mampu menghafalnya diserahkan kepada sebagian umat Islam. Semangat menghafal era ini mencapai puncaknya baik secara privat maupun lembaga pendidikan.

Al-Qur'an sangat penting untuk dihafal sebagai bentuk proses penjagaan Al-Qur'an. Menghafal Al-Qur'an bukan hanya spirit untuk memperoleh pahala, bukan pula mencari populatitas namun juga ikut andil menjadi tamu Allah dan kekasih Allah karena rela menghafal dan menjaga firman-Nya. Tidak semua muslim rela atau siap berlelah-lelah, berletih-letih dan bersusah payah untuk menghafal Al-Qur'an melainkan bagi mereka yang telah dianugerahkan oleh Allah sebagai hamba yang terpilih.

Dengan dihafalnya Al-Qur'an sepanjang tahun, setiap masa dan sepanjang zaman maka terjaminlah sudah keaslian Al-Qur'an sejak diwahyukan. Terhindar dari distorsi (perubahan), penambahan dan pengurangan ayat-ayatnya.

Siapa yang berupaya untuk merusak Al-Qur'an dengan mengubah ayat, menambahi dan mengurangi maka akan segera diketahui. Hal ini juga mengantisipasi jika secara tidak sengaja tertulis salah atau perubahan lainnya sehingga dapat mudah untuk segera dikoreksi.

Sepanjang sejarah diera Rasulullah dan sahabat, tabi'in,  tabi'ut tabiin dan diera modern ini, Al-Qur'an akan terus selalu dihafal. Dengan upaya pengafalan Al-Qur'an ini bukan berarti Al-Qur'an hanya sekedar dihafal saja melainkan upaya untuk memahami dan membumikan ajaran Al-Qur'an.

Hal ini telah dipraktikkan oleh Rasulullah dan sahabat. Mereka bukan hanya sekedar penghafal saja melainkan juga berupaya menafsirkan dan memahami ajaran-Nya. Ada sahabat yang hafal seluruh ayat Al-Qur'an, ada sahabat yang hanya hafal sebagian saja namun ahli dalam tafsirnya dan banyak sahabat sahabat yang ahli tafsirnya sekaligus juga hafal ayat-ayatnya.

Proses pengulangan hafalan (murajaah) para sahabat juga berbeda-beda sesuai dengan tingkat kemampuan dan tersedianya waktu. Ada yang dalam beberapa hari dapat khatam murajaah, ada yang seminggu dan ada yang membagi dalam pembagian tertentu.

Walhasil, apapun kemampuan kita tentang Al-Qur'an marilah kita kaji sesuai dengan kemampuan kita. Jika mampu mennghafalnya maka hafalkanlah sekaligus juga perdalami isi kadungannya. Jika tidak mampu menghafalnya, maka berusahalah memahami ayat-ayatnya kepada guru yang benar, yang lurus dan sanad yang dapat dipertanggungjawabkan. Validitas sanad ini sangat penting karena ajaran agama tidak sebagaimana mempejari pelajaran umum.




No comments:

Post a Comment

Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita

Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...