Tuesday, September 4, 2018
Benarkah Imam Madzhab Tidak Kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits
Qoul Syaikh Al Arif Billah Muhammad Amin al Kurdi al Irbili Asy Syafi’i
ومن لم يقلد واحدا منهم وقال أنا أغمل با لكتاب وا لسنة مدغيا فهم إلا حكام منهما فلا يسلم له بل هو مخطي ضال مضل سيما في هذا الزمان الذي غم فيه الفسق وكسرت فيه الدغوي ألبا ظلة لانه اسظهر
غلي اىمة ألدين وهو دونهم في الغلم والغدلة والاطلا غ (تنوير القلوب
"Dan barang siapa yg tidak mengikuti salah satu dari mereka (imam² madzhab) dan berkata "Saya beramal berdasarkan al Qur'an dan Hadits ", dan mengaku telah mampu memahami hukum hukum al Qur'an dan hadits, maka orang tersebut tidak bisa diterima , bahkan termasuk orang yg bersalah , sesat dan menyesatkan, teruma pada masa sekarang ini di mana kefasiqan merajalela dan banyak tersebar dakwah dakwah yg salah, karena ia ingin mengungguli para pemimpin agama padahal ia di bawah mereka dalam ilmu , amal, keadilan dan analisa".
(Kitab Tnwirul Qulub).
Imam Syafi’i juga senang berdialog. Bahkan beliau tuliskan dialog itu baik dalam kitab al Umm & dalam kitab ar Risalah.
Pada masa beliau terdapat pertentangan mengenai boleh tidaknya menerima Hadits Ahad, yaitu riwayat yg diterima dan disampaikan dari satu orang perawi.
Imam Malik di Madinah lebih menerima amal ahli Madinah ketimbang Hadits Ahad dengan alasan penduduk Madinah lebih paham Hadits dan jumlahnya lebih banyak ketimbang riwayat satu orang.
Imam Abu Hanifah dalam beberapa kasus malah mengeyampingkan Hadits Ahad jikalau bertentangan dengan qiyas yg beliau gunakan.
Maka tampillah Imam Syafi’i membela status dan kedudukan Hadits Ahad. Upaya beliau inilah yg membuat para ulama menggelari Imam Syafi’i sebagai Nashirus Sunnah (Pembela Sunnah Nabi).
Imam Syafi’i dalam juz dua kitab ar Risalah menuliskan bab khusus tentang Khabar Ahad. Bab ini dimulai dengan dialog sebagai berikut.
"Seseorang berkata kepadaku, : Definisikan untukku teks yg paling sedikit hujjahnya tapi ia memiliki kekuatan mengikat bagi para ulama?
Imam Syafi’i menjawab: “itu adalah Khabar (Hadits) ahad dari satu orang perawi ke satu perawi lainnya baik yg jalurnya sampai kembali ke Nabi atau terhenti pada selain beliau.
"Kehujjahan khabar ahad tidak terjadi melainkan memenuhi persyaratan seperti perawinya tsiqah dalam agamanya, terkenal jujur dalam ucapannya, paham dengan apa yg dia riwayatkan, mengerti dengan perbedaan redaksi atau lafaz. Dia jg bisa mengulangi teks Hadits huruf demi huruf seperti yg dia dengar, karena kalau disampaikan secara makna maka boleh jadi nanti dia tidak akan paham mana yg halal dan haram".
“Dia harus punya hapalan yg bagus baik (tamm) menyampaikannya dari memori atau catatannya. Dan jika diambil dari catatanya maka itu harus cocok dengan hapalan Hadits yg disampaikan pihak lain. Dia tidak boleh mudallis yg meriwayatkan dari orang yg dia temui tapi sebetulnya dia tidak mendengar Hadits darinya atau meriwayatkan dari Nabi yg kontradiksi dengan apa yg disampaikan orang yg tsiqah. Juga, semua perawi di atasnya bersambung sampai ke Rasul atau berhenti pada orang lain. Soalnya masing² perawi akan saling menetapkan satu sama lain. Tidak ada yg melewati persyaratan yg aku sampaikan ini (barulah Hadits Ahad itu diterima sebagai hujjah)”.
Dari kutipan dialog di atas, para Imam Mazhab sangat memahami Hadits Nabi. Jangan mengira mereka mengeluarkan pendapat tanpa dalil al Qur’an dan Hadits sehingga orang² jaman sekarang berani-beraninya mengecam para Imam Mazhab dan lantas mengajak kembali kepada al Qur’an dan Hadits seolah-olah para Imam Mazhab itu telah meninggalkan al Qur’an dan Hadits.
Ibaratnya para Imam Mazhab itu adalah para petani yg sudah bersusah payah menanam padi, dan para ulama sesudahnya telah mengolahnya menjadi beras, dan kemudian para kiai kita sudah menanak nasi. Kemudian para ustadz mengolah nasi tersebut dan kita tinggal menikmati nasi yg terhidang sesuai pilihan kita baik nasi goreng, nasi rames, sampai nasi bancak, Eh, pas baru mau makan, ada yg teriak:
“jangan tinggalkan beras, ayo kembalilah kepada beras!”.
Allah Ta’ala berfirman:
ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولا
“Dan janganlah engkau mengikuti apa yg engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawaban.”
(Qs al Isra 36).
Wallahu a'lam
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita
Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...
-
Oleh Rijalul Wathon Al-Madury Sayyid Kamal al-Haydari yg dengan nama lengkap Kamal bin Baqir bin Hassan al-Haydari (السيد كمال بن باقر ...
-
Rifdah Farnidah seorang Hafidzah asal Kecamatan Tanjungkerta, Kab. Sumedang Jawa Barat, berhasil meraih juara 2 pada Musabaqoh Hifdzil Qu...
-
Khutbah Pertama الحمد لله الذي بنعمت اهتدى المهتدون وبعدله ضل الضالون احمده واتوب اليه اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان نبينا محمدا عب...
-
Penempuh jalan cahaya tidak pernah menghabiskan waktunya untuk mengutuk kegelapan. Para wali dan sufi menyelinap dalam dunia sunyi, meski...
-
Oleh Suryono Zakka Sungguh kemuliaan bagi orang yang dikaruniai Allah kemampuan menghafal Al-Qur'an. Mereka akan dimuliakan oleh ...
-
Misi berdirinya NU selain sebagai benteng NKRI yang dikala itu adalah sebagai kekuatan perlawanan terhadap kaum penjajah, juga memili...
-
Kata fitnah berakar dari kata fatana. Ketika seseorang berkata fatantu al-fidhdhah wa al-dzahab, artinya adalah bahwa ia membakar perak...
-
Oleh Suryono Zakka Secara umum arti mudzakkar adalah kata yang menunjukkan sifat kelaki-lakian (maskulin) sedangkan muannats adalah ...
-
Kita pasti bertanya2 "mengapa Arab Saudi dan sekutu-sekutunya (Yordania, Kuwait, UEA, dan Irak (sekarang), tidak membantu Palestina ya...
-
1. Mengetahui ilmu tentang ayat Makki (Makkiyah) dan Madani (Madaniyah). Dengan mengetahui tempat dimana ayat Al-Qur'an diturunka...

No comments:
Post a Comment