Monday, April 27, 2020

Hukum Onani Saat Puasa


Oleh Suryono Zakka

Dalam sebuah video, tokoh Wahabi bernama Yazid Jawaz mengatakan bahwa onani saat puasa hukumnya bersifat ikhtilaf atau terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama. Yazid Jawaz sependapat dengan Albani bahwa onani saat puasa tidak membatalkan.

Lantas bagaimana pendapat dikalangan ulama tentang onani saat puasa? Ini penjelasannya.

1. Pendapat Jumhur Ulama

Menurut mayoritas ulama, onani dan masturbasi termasuk pembatal puasa.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman,

يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِى

“Orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat, makan dan minumnya.” (HR. Bukhari no. 7492). Dan onani adalah bagian dari syahwat.

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni berkata,

وَلَوْ اسْتَمْنَى بِيَدِهِ فَقَدْ فَعَلَ مُحَرَّمًا ، وَلَا يَفْسُدُ صَوْمُهُ بِهِ إلَّا أَنْ يُنْزِلَ ، فَإِنْ أَنْزَلَ فَسَدَ صَوْمُهُ ؛ لِأَنَّهُ فِي مَعْنَى الْقُبْلَةِ فِي إثَارَةِ الشَّهْوَةِ

“Jika seseorang mengeluarkan mani secara sengaja dengan tangannya, maka ia telah melakukan suatu yang haram. Puasanya tidaklah batal kecuali jika mani itu keluar. Jika mani keluar, maka batallah puasanya. Karena perbuatan ini termasuk dalam makna qublah yang timbul dari syahwat.”

Dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji karya Musthofa Khan dan Musthafa al-Bugha disebutkan bahwa onani saat puasa dapat membatalkan puasa jika disengaja.

الاستمناء: وهو استخراج المني بمباشرة تقبيل ونحوه، أو بواسطة اليد، فإن تعمد ذلك الصائم أفطر. أما إن غلب على أمره فلا يفطر.

“Istimna’ (onani) adalah berusaha mengeluarkan mani secara langsung atau dengan tangan. Jika dilakukan secara sengaja oleh orang yang berpuasa, maka membatalkan puasa. Adapun jika tidak disengaja, maka tidak membatalkan puasa.”

Dalam I’anatut Thalibin, Syekh Abu Bakar Syatha juga menjelaskan bahwa melakukan onani saat puasa itu termasuk hal yang membatalkan puasa sebagaimana keterengan berikut.

ويفطر باستمناء، وهو استخراج المني بغير جماع – حراما كان كإخراجه بيده، أو مباحا كإخراجه بيد حليلته أو بلمس لما ينقض لمسه بلا حائل

“Puasa itu batal sebab melakukan onani, yaitu berusaha mengeluarkan mani tanpa melalui jimak atau hubungan intim, baik onani yang haram, seperti mengeluarkan mani dengan cara menggerakkan kemaluan dengan tangannya sendiri, atau onani yang mubah, seperti meminta tolong istri melakukan onani dengan tangannya, atau menyentuh kulit seseorang yang membatalkan wudu bila persentuhannya tanpa penghalang.”

Dalam Nihayatuz Zain karya Syaikh Nawawi:

 (واستمناء) أى طلب خروج المني وهو مبطل للصوم مطلقا سواء كان بيده أو بيد حليلته أو غيرهما بحائل أولا بشهوة أولا

Namun jika tidak ada niat mengeluarkan air mani, tetapi keluar karena adanya persentuhan atau ‘kontak langsung antara kulit sebagai indera perasa dengan suatu barang. Semisal mencium, menggenggam tangan atau alat kelamin menempel pada sesuatu hingga keluar air mani, maka hal itu membatalkan puasa.

2. Pendapat Minoritas Ulama

Menurut pendapat ulama minoritas, onani tidak membatalkan puasa.

Sebagaimana pendapat Albani (ulama Wahabi, panutan Yazid Jawas) mengatakan:

Tidak ada dalil yang menunjukkan, bahwa hal tersebut dapat membatalkan puasa. Adapun menyamakannya dengan menggauli isteri adalah pendapat yang kurang jelas. Oleh sebab itulah ash-Shan’ani mengatakan: ‘Yang nampak jelas adalah tidak mengqadha’nya dan tidak ada kafarah (denda) baginya, kecuali karena jimaa’. Adapun menyamakan dengan hukum menggauli isteri adalah pendapat yang jauh dari kebenaran. Asy-Syaukani cenderung kepada pendapat ini. Ini merupakan pendapat Ibnu Hazm. Lihat ‘al-Muhalla’ (VI/175-177).

Di antara bukti, bahwa menganalogikan istimna’ dengan jimaa’ adalah analogi yang bermuatan beda, sebagian orang berpendapat begini, dalam masalah batalnya puasa mereka berpendapat tidak sama dengan masalah kafarat. Mereka mengatakan: Karena jima’ adalah lebih berat, dan hukum asal menetapkan tidak ada  kafarat. Lihat al-Muhadzdzab dan Syarahnya oleh an-Nawawi (VI/328)

Demikian pula kami mengatakan, bahwa hukum asal menetapkan tidak batal puasanya, dan jima lebih berat daripada istimna’, dan makna istimna’ tidak bisa dianalogikan dengan jima’. Renungkanlah! [Tamaamu al-Minnah hal. 418-419]

Demikian Albani menyampaikan fatwanya.

Jika menurut Albani dan santrinya yang bernama Yazid Jawaz menyatakan bahwa onani tidak membatalkan puasa, bagaimana pendapat Anda?

Saturday, April 25, 2020

Tiga Jenis Virus yang Lebih Berbahaya dari Virus Corona


Oleh Suryono Zakka

1. Virus Khilafah

Virus ini adalah virus pemberontak. Virus nyinyiriyun anti Pancasila. Jika virus Corona tak terlihat, tapi virus khilafah jelas terlihat.  Kemana-mana teriak rezim thaghut. Kemana-mana bawa bendera sambil mengigau "hancurkan demokrasi kafir" atau "Indonesia Milik Allah".

Memang Indonesia milik Allah, tapi bukan untuk kaum khilafah mas bro. Jangan terlalu pede mengatasnamakan Allah. Maling kok berkedok atas nama Allah. Nusantara memang milik Allah yang diamanatkan untuk bangsa Indonesia bukan bangsa khilafah. Sejak zaman batu kok setiap masalah, jurusnya hanya satu. Tegakkan khilafah. Sampai kiamat kerjaanya ngimpi dan menghayal terus. Kapan cerdasnya? Tidak kreatif blas. Mbokya mikir!

2. Virus Wahabi

Virus ini juga ganas mirip virus khilafah. Bedanya kalau virus ini sering teriak bid'ah dan musyrik. Ayo kembali pada Qur'an dan hadits! Mereka tidak sadar kalau yang ngajak kembali adalah mereka yang tersesat. Orang tidak pernah tersesat, tidak pernah kemana-mana kok diajak kembali. Memang aneh sekali virus Wahabi ini.

Kalau virus Khilafah bisa dideteksi sebagai kaum umbul-umbul, kalau virus Wahabi bisa dideteksi dengan wajah yang menyeramkan. Cukup bergamis atau sorban panjang, dahi hitam, celana setengah tiang dan hafal satu hadits andalan. Kullu bid'atin dhalalah. Jurusnya yaitu "kembali ke manhaj salaf". Gayanya saja manhaj salaf, padahal kampanye manhaj Albani dan manhaj Muhammad Bin Abdul Wahab An-Nejd. Taklid dengan junjungan yang mulia Ibnu Taimiyah. Ya kan?

3. Virus Barisan Sakit Hati

Nah, ini virus yang terakhir ini istimewa, lain dari yang lain. Walau tak seganas virus Wahabi dan Khilafah, tapi virus ini menyerang dari dalam. Virus yang kerap membawa fitnah walau terkadang virus ini menggelikan. Anda akan selalu tertawa ria jika virus ini berceloteh. Virus ini berkembang biak karena sang induk kalah Pilpres. Lucu juga ya? Ternyata sifat sakit hati bisa menumbuhkan benih virus benci setengah mati dan ambyar sampai mati. Hati-hati, jaga jarak agar anda tak tertular!

Ciri virus Ini adalah menebarkan hoax, kebencian, provokasi, menebarkan fitnah dengan jargonnya nyinyir tiada henti dan nyinyir sampai mati. Sampai liang kubur nyinyir terus. Jangan-jangan malaikat Munkar dan Nakir juga mereka nyinyirin.

Kelompok Kalah Pilpres sebenarnya tak semuanya terserang virus ini. Alhamdulillah banyak yang sembuh, waras dan gabung turut membangun bangsa. Mereka yang waras ini gentlemen loh. Mau legowo menerima kekalahan dan lapang dada dengan sikap ksatria. Tak mau mencela sang pemimpin karena mereka sadar bahwa mencela pemimpin hanya akan membawa perpecahan dan keruskan yang lebih besar. Salut untuk mereka ini. Mereka telah kembali kejalan yang benar dan optimis berkompetisi dan berkarya untuk negeri.

Nah, kalau virus yang sakit hati tadi, sepertinya sulit untuk disembuhkan. Negarapun bingung dibuatnya. Mereka bermental kecut alias tidak siap menerima kekalahan. Jurus andalan mereka adalah yang penting rezim tumbang. Bisa segera diganti dengan pemimpin idola mereka. Cepat atau lambat pokok'e ganti walau kapasitasnya belum jelas.

Berbeda dengan virus barisan sakit hati yang sulit untuk sembuh, virus Khilafah dan virus Wahabi, walau ganas melebihi Corona tapi bisa dilumpuhkan. Caranya sangat mudah. Memusnahkan virus Khilafah dengan cara sterilisasi kebangsaan alias meningkatkan semangat kebangsaan pada generasi muda. Sedangkan membasmi virus Wahabi dengan cara meningkatkan militansi NU. Islam wasathiyah atau Islam moderat. NU optimis, akidah Aswaja dengan asas Islam Nusantara akan mampu melumpuhkan virus Wahabi hingga keakar-akarnya.

Ingat! Walau berbeda-beda motifnya, ketiga virus ini memiliki persamaan yakni sama-sama bergerilya menyebarkan pahamnya di sosial media. Waspadalah!

Tuesday, April 21, 2020

Jilbab Kartini, Penipuan dan Kesombongan Atas Nama Islam


Oleh Suryono Zakka

Dalam setiap peringatan Hari Kartini, muncul foto Kartini berjilbab. Gambar Kartini berjilbab style dan fashionable ala muslimah masa kini. Muncul juga tulisan kurang lebih berbunyi: "Foto Asli Kartini ketika menjadi santri Kiai Sholeh Darat tidak berkonde dan tidak berkebaya. Foto Kartini berkonde dan berkebaya versi Belanda terus akan dikeluarkan kaum sekuler agar Kartini tetap dikenang sebagai perempuan yang tak mau berjilbab". Begitu bunyinya.

Setelah ditelusuri ternyata jilbab Kartini adalah hoax. Demikian klarifikasi pakar sejarah dan ahli forensik. Ada kecacatan alias murni editan gambar Kartini berjilbab dan berkaca mata. Lantas siapakah yang telah mengedit foto Kartini dan apa tujuan dari mengedit gambar Raden Ajeng Kartini?

Kita tidak tahu siapa yang mengeditnya. Kalau dari tujuannya, tentu bisa bermacam-macam. Bisa karena sebagai bentuk pembelaan terhadap kesantrian Kartini, perlawanan terhadap ideologi sekuler atau karena ingin menampilkan sisi religiusitas Kartini.

Memang benar Kartini adalah santri Kiai Sholeh Darat Semarang, tokoh ahli tafsir yang paling berjasa mendidik Kartini menjadi sosok yang religius. Pada Kiai Sholeh Darat, Kartini menemukan banyak inspirasi tentang Islam yang salah satunya karya Kartini dalam bukunya"Habis Gelap Terbitlah Terang" terinspirasi dari surat Al-Baqarah ayat 257 yang tema pokoknya berbunyi:

اللَّهُ وَلِىُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ إِلَى النُّورِ

Allah Pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman).

Kesalahan dari foto jilbab Kartini adalah ketidakjujuran. Demi untuk membela keislaman Kartini, editor foto melalukan kebohongan. Islam tidak pernah mengajarkan kebohongan demi untuk membela kebenaran Islam.

Jilbab yang dikenakan Kartini melampaui dari zamannya. Zaman yang masih setradisionalis itu, Kartini mengenakan Jilbab yang super modis yang saya sebut fashionable. Sesuatu yang janggal. Tokoh-tokoh nyai Nusantara yang tentu Islamnya kental seperti ibu Muslimat NU atau kader Aisyiyah Muhammadiyah pada zaman itu tak semodis sebagaimana jilbab yang dipakai Kartini. Maksimal mereka memakai kerudung.

Memang benar Islam menolak sekularisme Barat. Tapi melakukan penipuan untuk menolak sekularisme adalah kesia-siaan. Islam tidak pernah mengajarkan penipuan apalagi penipuan berbalut agama. Islam wajib ditebarkan dengan kejujuran. Setiap orang bisa mengaku beragama Islam tapi tidak semua orang Islam siap untuk berlaku jujur.

Kritik untuk editor Kartini berjilbab. Islam hanya dipahami sebagai fashion yang kental dengan materialisme. Islam kaffah atau muslimah yang mendapat hidayah hanya dipahami sebatas muslimah yang berjilbab besar atau jilbab merk terkenal.

Hal ini serasi dengan kelompok unyu-unyu mendadak hijrah. Mereka menganggap para muslimah zaman old atau bu nyai tempoe doeloe minim ilmu agamanya lantaran hanya berkerudung. Tidak serapat atau semaksi muslimah sosialita. Mereka akan menganggap wanita berkerudung atau tidak berjilbab sebagau ahli neraka. Yang berjilbab sesuai trend dijamin auto masuk surga.

Benarkah jika hidayah itu hanya sebatas jilbab? Apakah yang jilbab besar dan super jumbo sudah dijamin masuk surga? Bagaimana jika yang berjilbab jumbo itu tidak bisa menjaga lisannya dari menggunjing, merendahkan bahkan menyimpan kebencian kepada muslimah yang tidak berjilbab. Apakah tetap dapat setempel ahli surga?

Bagaimana jika dalam prosesnya muslimah tidak berjilbab lantas bertaubat sebelum mati dan si jilbab besar senantiasa merasa bangga dengan amal hidayahnya sehingga terbawa sampai mati? Bagaimana jika si muslimah tak berjilbab senantiasa takut pada Allah dengan semua kemaksiatan yang dilakukan sedangkan si muslimah jilbab jumbo bangga dengan amalnya dan bangga pada Tuhan atas ketaatannya? Apakah bisa dipastikan si muslimah tidak berjilbab masuk neraka dan jilbab jumbo ahli surga? Manusia tak bisa memonopoli surga. Benar bahwa menutup aurat itu perintah Tuhan namun yang perlu diingat bahwa sikap bangga diri dan merasa lebih baik adalah perintah iblis.

Intinya, tak ada manusia yang sempurna.  Hendaknya manusia sibuk dengan segala kekurangan masing-masing. Sebaik-baik pakaian adalah pakaian takwa. Pakaian yang dengannya menghadirkan ketundukan, rasa hina pada Tuhan dan welas asih pada manusia lainnya. Pakaian yang mengantarkan pada kesamaan sebagai hamba yang lemah. Pakaian yang mampu membakar segala sifat keangkuhan dan kesombongan.

Mengutip kalam Habib Jindan: "Seberapa rendah engkau memandang seseorang, serendah itu pula hakikat nilai dirimu. Karena tanda kemuliaan seseorang adalah dengan tidak memandang rendah makhluk Allah". Pesan habibana Umar bin Hafidz: "Mata yang memandang rendah terhadap orang lain adalah mata yang tak layak melihat Rasulullah".

Jelaslah muslimah yang mendapat hidayah atau muslimah yang religius adalah muslimah yang terus menerus mengoreksi dirinya sendiri kemudian berusaha untuk menjadi lebih baik. Tidak merasa lebih mulia dari makhluk lainnya. Menyibukkan diri untuk menjadi pribadi yang berkualitas, lahir dan batin. Kita bisa belajar dari Kartini bahwa menjadi pribadi yang religius adalah pribadi yang bermanfaat untuk masyarakat dan untuk bangsanya bukan sebatas muslimah yang jilbabnya super besar, mahal atau merk terkenal.







Kartini, Santri Kiai Sholeh Darat Sang Pelopor Terjemah Al-Qur'an


Peran Kiai Soleh Darat dalam menyebarkan Islam tak hanya semasa hidupnya maupun warisan pesantrennya. Sebab murid-muridnya adalah para pendiri organisasi Islam, pengasuh pesantren dan pendakwah agama yang terus menghasilkan kader-kader da’i berikutnya. Sampai akhir zaman.

Wali ini yang hidup sezaman dengan dua waliyullah besar lainnya, Syekh Nawawi Al-Bantani dan Kiai Kholil Bangkalan, Madura ini disebut sebagai gurunya para ulama tanah Jawa.

Murid-muridnya itu, diantaranya, KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Syaikh Mahfudh Termas Pacitan (pendiri Pondok Pesantren Termas), KH Idris (pendiri Pondok Pesantren Jamsaren Solo), KH Sya’ban (ahli falak dari Semarang), Penghulu Tafsir Anom dari Keraton Surakarta, KH Dalhar (pendiri Pondok Pesantren Watucongol, Muntilan), KH Munawir (Krapyak Yogyakarta), KH Abdul Wahab Chasbullah Tambak Beras Jombang, KH Abas Djamil Buntet Cirebon, KH Raden Asnawi Kudus, KH Bisri Syansuri Denanyar Jombang dan lain-lainnya. Para murid itu ada yang belajar pada Kiai Soleh Darat sewaktu masih di Mekah maupun setelah di Semarang.

”Bisa dikatakan, Kiai Soleh Darat adalah embahnya para ulama di Jawa, karena menjadi guru dari guru ulama yang ada sekarang,” terang KH Ahmad Hadlor Ihsan, mantan Rois Syuriyah PCNU Kota Semarang yang juga pengasuh Ponpes Al-Islah Mangkang, Tugu, Semarang.

Semasa hidupnya, selain mengajar masyarakat awam, Kiai Soleh Darat juga aktif mengisi pengajian di kalangan priyayi. Di antara jamaah pengajiannya adalah Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara.

RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Al-Qur’an. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, RA Kartini sangat tertarik dengan Kiai Soleh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.

RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Dan para ulama waktu juga mengharamkannya. Mbah Shaleh Darat menentang larangan ini. Karena permintaan Kartini itu, dan panggilan untuk berdakwah, beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.

Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.

Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya. Yaitu Surat Al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur).

Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya.

Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Soleh Darat.

Dalam surat-suratnya kepada sahabat Belanda-nya, JH Abendanon, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. Sayangnya, istilah “Dari Gelap Kepada Cahaya” yang dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan Armijn Pane dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini.

Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Qur’an. Kata “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“ dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan) ke tempat yang terang benderang (petunjuk, hidayah atau kebenaran).

Kitab Tafsir Kiai Soleh itu, walau tidak selesai 30 juz Al-Qur’an, dicetak pertama kali di Singapura pada tahun 1894 dengan dua jilidan ukuran folio. Sehingga walau pengarangnya telah wafat, pengajian kitab ini jalan terus. Karena referensi pribumi Jawa yang bermukim di tanah melayu. Bahkan kaum muslim di Pattani, Thailand Selatan juga memakai kitab ini.

Hingga kini Karya-karya Mbah Soleh Darat masih dibaca di pondok-pondok pesantren dan majelis taklim di Jawa. Sebagian besar bukunya sampai sekarang terus dicetak ulang oleh Penerbit Toha Putera, Semarang.

Sederhana plus Progresif

Sebagaimana umumnya ulama, Kiai Soleh Darat sangat bersahaja dan tawadhu. Akhlaknya sangat terjaga dari kesombongan. Dalam semua kitabnya, ia selalu selalu merendah dan menyebut dirinya sebagai orang Jawa awam yang tak faham seluk-beluk Bahasa Arab.

Di prolog kitabnya selalu tertulis “buku ini dipersembahkan kepada orang awam dan orang-orang bodoh seperti saya”. Dalam pendahuluan Terjemahan Matan al-Hikam terbitan Toha Putra Semarang tertera: “ini kitab ringkasan dari Matan al-Hikam karya al-Allamah al-Arif billah Asy-Syaikh Ahmad Ibnu Atha’illah. Saya ringkas sepertiga dari asal agar memudahkan orang awam seperti saya. Saya tulis dengan Bahasa Jawa agar cepat dipahami oleh orang yang belajar agama atau mengaji”.

Bahkan, meski beliau keturunan Nabi Muhammad (sayyid/habib), yang nasabnya dari Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) putra Raden Rahmat (Sunan Ampel), hal itu tak pernah dikatakannya. Bagi Mbah Soleh, orang dihormati karena ilmu dan amalnya. Bukan garis keturunannya.

Kiai Soleh Darat selalu menekankan kepada muridnya agar giat menuntut ilmu. Dia berkata: “Inti sari Al-Qur’an adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan akhirat”.

Diperingatkannya, orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan dalam keimanannya, maka akan jatuh pada keyakinan sesat. Sebagai misal, paham kebatinan yang mengajarkan bahwa amal yang diterima Allah adalah amaliyah hati yang dipararelkan dengan paham Manunggaling Kawulo Gusti-nya Syekh Siti Jenar dan berakhir tragis pada perilaku taqlid buta (anut asal ikut).

”Iman orang taklid tidak sah menurut ulama muhaqqiqin (ahli hakikat),” demikian tegasnya. Kata itu tersurat dalam Kitab Tarjamah Sabil al-‘Abid ‘Ala Jauharah al-Tauhid karya Mbah Soleh Darat. Lebih jauh beliau peringatkan masyarakat tak terpesona oleh orang yang mengaku memiliki ilmu hakekat tapi meninggalkan syariat seperti sholat dan amalan fardhu lainnya. Kemaksiatan berbungkus kebaikan tetap saja namanya kebatilan, demikian inti petuah beliau.

Tauhid yang Tepat

Kiai Soleh Darat dikenal sebagai ahli ilmu kalam. Ia adalah pendukung teologi Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturudi. Dalam kitab Tarjamah Sabil al-’Abid ‘ala Jauharah at-Tauhid dia mengemukakan penafsirannya atas sabda Rasulillah SAW mengenai terpecahnya umat Islam menjadi 73 golongan sepeninggal Nabi, dan hanya satu golongan yang selamat.

Menurutnya, yang dimaksud Nabi Muhammad SAW dengan golongan yang selamat adalah mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan oleh Rasulillah SAW, yaitu melaksanakan pokok-pokok kepercayaan Ahlussunah Waljamaah Al-Asy’ariyah, dan Maturidiyah.

Sebagai ulama yang berpikiran maju, ia senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru bertawakal, menyerahkan semuanya pada Allah. Ia sangat mencela orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Ia juga tidak setuju dengan teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatan.

Tradisi berpikir kritis dan mengajarkan ilmu agama terus dikembangkan hingga akhir hayatnya.

Ikon Kota Semarang

Menurut Ketua Pengajian Ahad Pagi KH Muhamamd Muin, Kiai Soleh Darat lahir di Dukuh Kedung Jumbleng Kecamatan Mayong, Jepara, sekitar tahun 1820 (1235 H). Beliau wafat di Semarang, tanggal 18 Desember 1903/28 Ramadhan 1321 H dalam usia 83 tahun.Kata ”Darat” di belakang nama Kiai Soleh adalah sebutan masyarakat untuk menunjukkan tempat dia tinggal, yakni di Kampung Darat, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara.

Ayahnya, KH Umar, adalah ulama terkemuka yang dipercaya Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Belanda di wilayah pesisir utara. Setelah mendapat bekal ilmu agama dari ayahnya, Soleh kecil mulai mengembara, belajar dari satu ulama ke ulama lain.

Lalu bersama ayahnya pergi ke Singapura, belanjut pergi haji sekaligus melanjutkan studi di Mekah. Setelah ayahnya wafat di tanah suci, Soleh berhasil mendapat ijazah dari ulama terkemuka di Mekah dan ia lalu menjadi guru besar di sana.

Banyaknya umat yang hadir di haulnya, memang menjadi tengara kebesaran namanya. Tak dapat dipungkiri, ulama besar itu memang telah menjadi ikon Semarang di masa lalu.

Mengingat beliau termasuk perintis kemerdekaan, tokoh perlawanan terhadap penjajah melalui ilmu pengetahuan, selayaknya diberi gelar Pahlawan sebagaimana sebagian para muridnya.

Penulis : *Muhammad Ichwan*

Selamat Hari Kartini

Raden Ajeng Kartini
21 April 1879 - 17 September 1904

#GenerasiMudaNU

Thursday, April 16, 2020

Ini Masalahnya Jika Khilafah Tegak di Indonesia


Oleh Suryono Zakka

Walau HTI telah dibubarkan dan ditetapkan sebagai Ormas terlarang seperti PKI, namun syabab (anteknya) terus menebar propaganda diberbagai media.

Propaganda antek HTI yang saat ini beredar yakni dengan membuat video dan tulisan yang berjudul "Apa Masalahnya Jika Khilafah Tegak di Indonesia" karangan syabab HTI, Heri Al-Fatih. Inti dari tulisan ini adalah mengajak orang awam agar semangat menegakkan khilafah dengan membandingkan kondisi bangsa saat ini.

Berikut adalah tulisan propagandanya antek HTI (Heri Al-Fatih) sekaligus saya beri jawaban sehingga terbongkar semua kebohongan dan iming-iming semu antek khilafah.

1. Jika Khilafah tegak di Indonesia, maka semua agama selain Islam akan tetap boleh hidup damai, semua akan diberi kebebasan menyembah tuhan-tuhan mereka. Mereka tidak akan dipaksa memeluk Islam. Lalu masalahnya apa Jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: Masalahnya jika khilafah tegak di Indonesia, maka kerukunan antar umat beragama akan terganggu bahkan akan terjadi perang antar agama. Jangankan menghormati atau menjalin perdamaian antar agama, kepada sesama umat Islam saja mereka kafirkan, menuduh musyrik, berhukum thaghut dan halal darahnya untuk ditumpahkan hanya karena tidak menegakkan khilafah. Jadi kebebasan beragama ala kaum khilafah adalah dusta dan tanpa khilafahpun, NKRI sudah menerapkan kebebasan beragama.

2. Jika Khilafah tegak, maka Pendidikan dan Kesehatan akan digratiskan untuk seluruh warga negera tanpa terkecuali,, karena semua itu adalah hak rakyat dan sudah menjadi kewajiban Khalifah sebagai pelayan rakyat. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: Bagaimana mau menerapkan pendidikan dan kesehatan gratis, lha wong khalifahnya tidak jelas siapa namanya dan dimana rimbanya. Dimana-mana ditolak disetiap negara dan menjadi gerakan pemberontak kok mau menerapkan pendidikan dan kesehatan gratis? Tanpa khilafahpun, saat ini pemerintah sudah memperhatikan pendidikan dan kesehatan bagi rakyatnya. Walau belum maksimal tapi lebih baik dari pada hanya sekedar mimpi dan bualan kaum khilafah.

3. Jika Khilafah tegak, hukum Allah akan diterapkan secara kaaffah (menyeluruh). Tidak ada lagi perzinahan, riba, miras, dan kesyirikan yang terjadi secara terang-terangan seperti hari ini. Tidak ada lagi muslim yang meninggalkan sholat dengan bangga. Semua akan taat kepada Allah Swt. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: Masalahnya, setan itu hidup disistem manapun termasuk hidup disistem khilafah. Jadi, walau diterapkan sistem khilafah, kerja setan jalan terus. Artinya, kemaksiatan dan kejahatan tetap ada walau dalam sistem khilafah. Kalau kemasiatan berhenti dengan tegaknya khilafah, terus neraka sepi dong? Kata siapa tidak ada kemaksiatan disistem khilafah? Lihatlah sejarah beberapa penguasa dan keturunan khalifah yang ahli zina dan mabuk. Jangan menipu atas nama khilafah. Tanpa khilafah, NKRI sudah kaffah. Setiap pemeluk agama bisa damai dan tenteram menjalankan syariatnya masing-masing. Toh, khilafah bukan bagian dari Rukun Iman dan Rukun Islam, jadi khilafah bukanlah sesuatu yang esensi dalam syariat Islam.

4. Jika Khilafah tegak, hukum Allah terlaksana secara sempurna, maka negeri ini pun akan diberikahi. Bukankah Allah telah berjanji akan mendatangkan berkah dari langit dan bumi Lihat QS.7:96 jika penduduk ini bertakwa?.  Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: NKRI ini sudah diberkahi oleh Allah. Jika ada bencana dan musibah, semata-mata adalah ujian bagi kaum yang beriman bukan karena tidak menerapkan khilafah. Negeri ini dihuni oleh para wali, didoakan para ulama dan dicintai oleh penduduknya. Masalahnya jika khilafah tegak, maka mereka akan merusak anugerah Allah berupa berkah dan kedamaian dinegeri ini.

5. Jika Khilafah tegak, tidak akan ada lagi kemaksiatan yang terjadi secara terang-terangan. Beda dgn hari ini, dimana kemaksiatan menjadi budaya bahkan difasilitasi oleh negara. Maka Khilafah hadir untuk menghilangkan semua jenis kemaksiatan, bukankah itu sebuah kebaikan?.
Lalu apa masalahnya jika Khilafah di Indonesia?

Jawab: Masalahnya, kaum khilafah sendiri adalah ahli maksiat. Ahli maksiat dengan bertopeng nama Tuhan. Ahli maksiat yang terus-menerus merongrong negara. Kelompok minoritas tapi gayanya mayoritas dengan menebar kebohongan atas nama ulama, atas nama Islam. Umat Islam yang mana yang mereka ikuti? Mereka adalah kelompok Khawarij-Takfiri perusak perdamaian.

6. Jika Khilafah tegak, tidak akan ada lagi penista agama  seperti Abu Janda, Deni Siregar, Busukma dan Muwafiq. Khilafah dengan hukum Islamnya akan menindak tegas para penista agama. Islam pun akan mulia dan agama lain tetap dihormati. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: Penista agama adalah mereka yang memanipulasi ajaran agama untuk memuaskan kepentingan pribadi atau kelompok. Penista agama adalah mereka yang selalu menebar kebohongan bahwa rasulullah tidak bisa menegakkan rahmatan lil 'alamin sebelum tegaknya khilafah. Para penista agama adalah mereka yang bodoh tentang agama tapi berlagak ahli agama, bicara tentang agama hanya dengan modal jubah, jenggot panjang dan sorban. Provokator berlagak paling suci sedunia. Ini masalahnya.

7. Jika Khilafah tegak, tidak ada lagi para maling uang rakyat alias koruptor. Tidak ada lagi rakyat tertindas oleh kezaliman penguasa dan ketidakadilan hukum. Rakyat jelata dan para pejabat negara akan hidup dalam kemakmuran dan keadilan. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: Ada juga loh dimasa kekuasaan daulah dahulu, penguasa yang korup bahkan maling atas nama Tuhan dan kekuasaan. Bukan saja foya-foya di istana tapi juga berebut kekuasaan alias perang saudara. Saling menumpahkan darah hanya karena haus tahta. Ini juga masalahnya. NKRI lebih mulia, dalam setiap pergantian pemimpin tidak ada perang saudara apalagi bunuh-bunuhan.

8. Jika Khilafah tegak, maka nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila benar-benar akan terwujud, bukan lagi sebuah hayalan belaka. NKRI pun akan terjaga dan wilayahnya akan semakin luas. Tidak ada lagi perusak NKRI seprti OPM di Papua. Tidak ada lagi wilayalah NKRI yg terlepas, seperti terlepasnya Timur-timur. Setiap jengkal tanah negeri ini akan terjaga. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: Bohong besar jika mereka mendukung Pancasila. Bagi antek khilafah, Pancasila itu thaghut. NKRI itu produk kafir. UUD 1945 hanyalah sistem syaithaniyah. Jadi, mereka menghalalkan segala cara untuk menipu kaum awam. Masalahnya, khilafah HTI lebih ganas dan lebih licik dari OPM.

9. Jika Khilafah tegak para orang tua tidak perlu khawatir dengan tontonan anak-anak di Tv, karena TV hanya akan menayangkan yang baik. Baik menurut Allah, bukan baik menurut manusia. Tidak ada sinetron yang merusak moral dan aqidah. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: Masalahnya, jangankan mengajarkan moralitas, kaum khilafah itu sendiri tidak punya moral. Sudah ditolak tapi tidak tahu malu. Anti NKRI tapi nyaman dan tidur nyenyak di NKRI. Benci dengan pemimpin tapi fasilitas negara dinikmati. Jangankan menjaga akidah, padahal akidah mereka sendiri tidak jelas. Akidah Aswaja tak akan mabuk dengan khilafah. Jadi, kaum khilafah ini pakai akidahnya siapa?

10. Tegaknya Khilafah akan menghapus segala bentuk penjajahan yang terjadi di negeri ini. Sumber Daya Alam yang hari ini 85% dikuasai oleh Asing dan Aseng akan kembali menjadi milik rakyat. Semua akan dikelola oleh Khilafah dan hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat secara gratis. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: Masalahnya, kaum khilafah itu adalah kaum penjajah. Penjajah yang jualan agama. Yang namanya penjajah, semanis apapun janji-janjinya ya tetap membual alias bohong. Ngaku anti asing padahal mendapat donasi dari asing dan dipiara oleh negara asing. Bukankah idelogi khilafah HT adalah ideologi asing dan ideologi usang sehingga tidak dipakai oleh mayoritas ulama. Alhamdulillah, ulama pendiri NKRI dan ulama yang setia NKRI sudah paham tentang kebohongan kaum khilafah.

11. Jika Khilafah tegak, tidak ada lagi pengangguran. Lapangan pekerjaan akan disediakan oleh Khalifah sebanyak-banyaknya, sehingga rakyat bisa mencari kerja dengan sangat mudah. Bahkan tidak perlu memikirkan ijazah.
Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: Siapa bilang? Yang namanya pemalas, hidup dalam sistem apapun ya tetap pengangguran. Siapapun yang tidak mau sekolah ya tetap bodoh. Masalahnya, kaum khilafah itu bodoh tapi berlagak pintar disegala bidang. Setiap permasalahan jurusnya hanya satu. Tegakkan khilafah!

12. Jika Khilafah tegak, rakyat yang ingin membuka usaha/bisnis tapi tidak punya modal usaha, maka Khalifah akan memberikan ia modal. Rakyat yang punya utang tidak bisa ia lunasi, maka Khalifah yang akan membantu. Pemuda yang ingin menikah tidak punya modal, juga akan dinikahkan oleh negara(khilafah).
Lalu apa masalahnya jika Khilafah di Indonesia?

Jawab: Ini masalahnya, kaum khilafah hobi hutang tapi tidak mau membayar. Mental penindas dan pengemis. Hidup manja dan tidak mau kerja keras tapi menghayalnya sampai langit ketujuh. Menikah tanpa sistem khilafah tetap sah. Yang namanya jomblo, akan ada disetiap masa.

13. Jika Khilafah tegak, seluruh warga akan dijamin keamanannya sehingga tidak perlu ada yang repot-repot membuat pagar rumah setinggi 5 meter. Tidak perlu menyediakan CCTV apalagi menyewa Security. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: Maling tidak kenal sistem. Justru keberadaan antek khilafah membuat kekacauan dan merusak ketenteraman. Bagaimana jadinya jika negeri ini menerapkan khilafah. Sedikit-sedikit kafir-thaghut, kaum Aswaja tidak lagi nyaman mengamalkan ibadah dan amaliyahnya. Siapa yang berani mengkritik khilafah bisa langsung dijagal. Halal darahnya. Ini tambah masalah.

14. Jika Khilafah tegak, maka seluruh warga negara akan dijaga kehormatannya. Negara akan menerapkan  aturan berkenaan dengan pergaulan pria & wanita sebagai pencegahan dan memberi sanksi yang tegas bagi yang melanggar. Orang tua pun tidak perlu lagi khawatir anaknya jadi korban. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: Masalahnya, jika khilafah tegak di Infonesia, umat Islam di Nusantara tidak lagi kenal budayanya. Dipaksa memakai budaya Arab karena semua budaya Nusantara dianggap kafir. Khalifah bisa menerapkan pergundikan. Menjadikan wanita sebagai pemuas nafsu penguasa.

15. Jika Khilafah tegak, tidak seorang pun yang terabaikan hak-haknya, semua akan mendapat keadilan secara merata. Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: Sistem khilafah bersifat diktator alias absolut. Siapa yang menentang khalifah maka bersiaplah meregang nyawa. Siapa yang melawan khalifah dianggap melawan Tuhan. Semua perkataan khilafah dianggap perkataan Tuhan sehingga totalitas wajib diikuti.

16. Jika Khilafah tegak, para Ustadz dan Da'i tidak perlu lagi repot-repot mengajak muslim untuk sholat, dan tidak perlu capek-capek mencegah orang lain dari kemaksiatan, karena dakwah akan menjadi tanggungjawab negara. Khalifah akan mengajak seluruh warga untuk taat kepada Allah Swt.
Lalu apa masalahnya jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: Amar ma'ruf nahi munkar itu tanggung jawab bersama bukan hanya untuk penguasa. Tidak ada jaminan kemaksuman khalifah sehingga khalifah bisa berpotensi salah dan melakukan kemaksiatan. Siapa yang mencegah kezaliman khalifah maka dianggap memusuhi Tuhan. Ini juga masalah.

17.  Saya tidak mampu  menuliskan keindahan dan kesejahteraan yang akan kita rasakan jika khilafah tegak nanti, sebagaimana saya tidak mampu menuliskan kezaliman dan kemaksiatan yang terjadi hari ini akibat penerapan sistem demokrasi.
Lalu masalahnya apa jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: Saya mampu menuliskan kejahatan khilafah sebab khilafah hanyalah sistem buatan manusia dan bukan sistem buatan Tuhan. Sistem khilafah tidaklah suci melainkan tersimpan didalamnya kekurangan dan kejahatannya. Kita bisa membaca sejarah, betapa banyak umat Islam harus meregang nyawa saling membunuh hanya karena berebut tahta. Ini masalah yang perlu dijadikan pelajaran.

18. Khilafah adalah kewajiban mulia, bahkan para ulama menyebutnya sebagai 'mahkota kewajiban', tegaknya merupakan janji dari Allah dan Rasul-Nya yang tidak seorang pun dapat menghalangi. Menghalangi tegaknya Khilafah ibarat menghalangi terbitnya fajar diwaktu pagi, sebuah kemustahilan dan kesia-siaan. Dengan atau tanpa Anda, maka Khilafah PASTI akan segera tegak kembali. Lalu masalahnya apa jika Khilafah tegak di Indonesia?

Jawab: Khilafah bukanlah kewajiban melainkan  tawaran alternatif yang tidak ada jaminan baik. Tak ada dalilnya untuk menerapkan khilafah tahririyah. Khilafah Imam Mahdi memang akan datang tapi bukan khilafah penipu ala HTI. Ulama Aswaja yang lurus tidak akan tergiur dengan mimpi khilafah. Walau dipaksakan bagaimanapun, khilafah akan terus gagal sebab   hanyalah produk tafsir gagal yang usang, yang hanya merusak dan mempersempit keagungan ajaran Islam. Masalahnya, negara manakah yang saat ini tertarik dengan mimpi khilafah? Mboknya kaum khilafah sekali-kali bangun, sadar diri, jangan hanya mimpi dan mengigau terus.

Semoga negeri kita aman dan damai terhindar dari perpecahan. Semoga ideologi asing seperti ideologi komunis dan khilafah tidak menguasai negeri kita. Jaga persatuan dan tetap Pencasila.

Friday, April 10, 2020

Cinta Sejati NU untuk Keluarga Nabi dan Sahabat


Oleh Suryono Zakka

Cinta NU pada sahabat dan dzuriyat memang luar biasa. Bukan hanya sebatas lirik lagu yang sedang trending. Cinta NU pada mereka sejak dulu sangatlah kaffah, tak pilih kasih, tak harap pamrih.

Disaat sekte Wahabi memusuhi dzuriyat, mencela habaib dan keturunan nabi, NU terdepan dalam membela mereka. NU sangat memuliakan habaib, tak segan cium wolak walik tangan habaib bahkan NU rela dituduh sebagai penganut Syiah oleh Wahabi hanya karena sering menyebut nama ahlul bait, Fatimah, Hasan dan Husein.

Walaupun habaib manusia yang bisa salah yang juga perlu nasehat dan teguran namun warga NU tetap memuliakan habaib sebagai bukti cinta mereka pada kanjeng nabi. Warga NU menempatkan habaib dalam posisi yang spesial karena pada diri mereka masih mengalir darah nabi.

Cinta NU pada keluarga Nabi tak terkira. Tak segan-segan memanggil mereka dengan julukan yang mulia seperti julukan Sayyidina sebelum nama mereka. Seperti Sayyina Ali, Sayyidina Hasan dan Husein, Sayyidina Hamzah, Sayyid Abdullah, Sayyidah (Siti) Fathimah bahkan menyebut nama kanjeng nabi dengan didahului Sayyidina Wa Maulana.

Orang NU tak jemu-jemu menyebut namanya mereka dengan senandung pujian sebagaimana yang tertulis dalam kitab-kitab maulid atau Burdah seperti dalam kitab Barzanji, Diba'i, Simthuddurar dan sebagainya. Warga NU harus rela dicerca Wahabi karena dianggap ghuluw (berlebih-lebihan) hanya karena memuji ahlul bait. Tak masalah, cinta sejati tak akan surut walau dicerca.

Ketika Wahabi memvonis kafir kedua orang tua nabi, NU tampil lagi untuk membela. NU tidak akan rela jika Wahabi yang mengolok-olok Siti Aminah sebagai ahli neraka. Bagi NU, Siti Aminah dan Sayyid Abdullah tetap ahli surga walau hidup sebelum masa kenabian. Bagaimana mungkin ibu yang melahirkan manusia agung sebagai rahmat semesta alam akan menjadi umpan api neraka.

Disaat sekte Syiah rafidhah mencela sahabat, NU juga tak surut untuk membela mereka. Tampil terdepan dalam membela kehormatan sahabat. Membela Sayyidah Aisyah dari kecaman Syiah Rafidhah. Orang NU tak akan tinggal diam ketika para sahabat dihina dan direndahkan. Bagi NU, sahabat juga punya andil besar dalam memperjuangkan Islam. Betapa banyaknya sahabat tak terhitung, telah gugur menjadi Syuhada' demi untuk mendukung dakwah kanjeng nabi.

Cintanya warga NU memang tak pilih kasih. Cinta pada keluarga nabi dan sahabat tertancap kuat menghujam dalam hati melebihi kecintaan pada diri mereka sendiri. Tak seperti Wahabi yang hanya menyanjung para sahabat tapi merendahkan dzuriyat dan ahlul bait. Tak seperti Syiah Rafidhah yang hanya memuji ahlul bait tapi merendahkan sahabat.

Karena kecintaan yang sangat kepada keluarga nabi dan sahabat, warga NU menghadirkan sosok mereka sesuai dengan cita rasa Nusantara sehingga mereka lebih akrab secara psikologis dan mudah diterima oleh masyarakat Nusantara. Seperti julukan dewi Aisyah, dewi Fathimah, dewi Khadijah, dewi Aminah dan sebagainya. Ini menandakan bahwa sosok mereka tetap menjadi teladan bagi muslimah Nusantara.

Sungguh beruntung menjadi NU. Memiliki dua kecintaan yang tak terpisahkan. Mencintai keluarga nabi sekaligus para sahabatnya. Warga NU kerap membaca beragam shalawat yang didalamnya berisi pujian dan keselamatan untuk nabi, keluarga nabi dan sahabat. Kompolit dan lengkap tanpa memilih dan memilah.

Mari kita pertahankan kecintaan itu dengan tulus hati. Selalu bershalawat dan tawassul kepada nabi, keluarga dan sahabatnya. Tanpa mencintai nabi, kita tidak akan selamat sebab tidak mendapat syafaat. Jangan seperti Wahabi yang begitu cinta pada sahabat tapi alergi dengan Sayyidah Fathimah, Sayyidina Hasan dan Husein bahkan mengkafirkan kedua orang tua nabi. Jangan pula seperti Syiah Rafidhah yang sangat menjunjung ahlul bait namun sangat membenci sahabat.

Foto: Makam ibunda Nabi Muhammad saw., Sayyidah Aminah, sosok yang divonis kafir oleh Wahabi.





Sunday, April 5, 2020

Ketika Tuhan diajak Membinasakan


Oleh Suryono Zakka

Bagi kelompok radikal, Tuhan dianggap sebagai sosok angker yang tugasnya hanya membunuh. Tuhan diimajinasikan sebagai zat yang galak, beringas, rajin membinasakan dan sibuk menimpakan petaka untuk hamba-Nya. Bahkan Tuhanpun perlu disuruh-suruh untuk membunuh agar Tuhan terlihat ganas dan ditakuti semua hamba-Nya.

Dalam nalar kaum radikal, siapapun yang berbeda wajib ditumpas. Siapapun yang berbeda dengan pendapatnya pasti salah dan pasti masuk neraka. Tidak ada jalan kebenaran bagi kelompok lain. Kebenaran dalam benak kaum radikal adalah tunggal. Orang yang berbeda sikap dan pendapat pasti salah dan kalau tidak salah maka harus mau disalahkan. Tuhanpun dianggap salah kalau tidak mau mengabulkan permintaannya.

Tak peduli seorang presidenpun. Jika tak sesuai dengan pendapatnya maka presiden harus salah. Jangankan presiden, lha wong Tuhan saja didikte semaunya apalagi hnya manusia biasa seperti Jokowi. Akal radikal memang seperti itu. Memakai mental Khawarij. Jangankan punya sopan santun pada presiden, pada Tuhan saja tidak punya adab. Pokoknya Tuhan harus nurut sama gue, kalau gak nurut, Tuhan akan gue pecat atau gue pensiunkan. Begitu nalar koplak kaum radikal.

Kaum radikal selalu cekak akalnya. Memandang sebuah permasalahan hanya satu sisi dan mengabaikan sisi yang lain. Yang ada dalam benaknya hanya benar dan salah atau halal dan haram. Makruh atau mubah tidak dipakai. Jadi apapun kebijakan presiden akan selalu salah dimata kaum radikal. Apapun tindakan presiden harus salah. Maju kena, mundur kena karena semua sudah didasari dengan sikap kebencian.

Kaum radikal itu licik. Jika ada kebaikan atau jasa dari kelompok lain tidak mau komentar tapi kalau ada sedikit saja kekurangan dari kelompok lain maka paling kenceng teriaknya. Jika ada kebijakan pemerintah yang telah terlihat manfaatnya maka kaum radikal mingkem tapi kalau ada kebijakan pemerintah yang tidak disukainya maka paling lantang suaranya. Pelit memuji tapi paling rajin mencela.

Kaum radikal juga rajin membawa Tuhan untuk mengelabui kelompok lain. Tuhan dijadikan alat propaganda dan monopoli untuk melampiaskan amarahnya. Kelompok lain tak dianggap punya Tuhan. Semua kehendak Tuhan sudah mereka borong. Setiap tindakannya, meskipun buruk selalu pakai stempel Tuhan. Setiap kejadian dijadikan tunggangan untuk menumpangkan pemerintahan. Kini kasus Corona dijadikan ajang untuk menjatuhkan Jokowi.

Untungnya Jokowi selalu sabar dalam memimpin rakyat yang modelnya seperti ini. Jika mereka tak pernah berhenti mencaci, maka Jokowi tidak pernah berhenti mengabdi. Betapa beratnya menjadi seorang presiden. Belum selesai ibunya dihina saat meninggal kini Jokowi dihujat habis-habisan entah yang keberapa kalinya tak terhitung.

Untungnya lagi, bukan kelompok radikal yang memimpin negeri ini. Tak dapat dibayangkan jika mereka memimpin dan menguasai negeri ini, entah apa jadinya. Mereka yang tak memiliki kekuasaan saja selalu teriak-teriak dengan pongahnya tak punya hormat pada pemimpin apalagi jika mereka yang memimpin. Naudzubillah mindzalik. Jangan sampai.

مَنْ أَهَانَ السُّلْطَانَ أَهَانَهُ اللهُ (رواه الترمذي)

Barangsiapa yang menghina seorang penguasa, maka Allah akan menghinakannya (HR al-Tirmidzi)




Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita

Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...