Thursday, February 1, 2018

Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpo Bondo



Orang yang sakti tidak suka hura-hura, cari bolo (mengerahkan bantuan), gerudukan dan cari musuh. Orang yang sakti adalah sang pemberani yang siap menerima apapun risiko dari apa yang dilakukan. Tidak kabur dari kenyataan. Ia akan senantiasa ngluruk (menghadapi kenyataan) tanpa mengerahkan bantuan. Orang yang sakti bukan pengecut yang suka cuci tangan dan sembunyi tangan serta hobi melempar batu dan melempar tanggungjawab dari kesalahan. Siap menerima dengan lapang dada atas kesalahannya dan siap dihukum atas perbuatannya. Orang yang sakti menyadari bahwa ia tidak akan bisa lari dari kuasa Tuhan. Ia sadar bahwa jika ia bisa bersembunyi, menipu dan mengelabui manusia maka ia tidak akan dapat bersembunyi dari pengawasan Tuhan. Jika tidak didunia ini maka ia akan mendapatkan siksa dialam keabadian.

Sekti tanpo aji merupakan filosofi Jawa yang bermakna kesaktian tanpa jimat, mantra atau aji-aji. Hal ini bersinergi dengan ajaran Islam bahwa untuk menjadi orang yang sakti tidak harus menggunakan mantra atau jampi yang aneh-aneh. Kesaktian yang berarti kamulyan (kemuliaan) tidak dipandang sebagai orang yang banyak jimat atau punya ilmu kanuragan yang ampuh dan ditakuti oleh banyak orang. Kesaktian yang sesungguhnya adalah ketika dapat memuliakan Tuhan dan memuliakan sesama. Sakti yang sesungguhnya menurut Islam adalah mereka yang bertakwa yakni derajat kesaktian yang tak ada bandingannya dengan kesaktian yang lain.

Orang yang sakti tidak pengecut karena para pengecut tidak layak menyandang gelar sebagai orang yang sakti walau berilmu tinggi, kebal senjata dan punya cadangan nyawa. Para pengecut hanyalah yang suka ribut dibelakang namun tidak berani menghadapi kenyataan dibagian depan.

Orang yang sakti tidak suka merendahkan siapapun karena ia tidak pernah merasa sebagai orang yang paling mulia diantara manusia. Jika dihina tidak sakit hati dan jika disanjung tak tinggi hati karena ia tidak memuliki kadigdayan (kehebatan) apapun. Jika punya kelebihan bukan karena kehebatannya melainkan sebagai anugerah dari Tuhan untuk menolong sesama yang membutuhkan.

Menang tanpo ngasorake berarti selalu menjadi pemenang tanpa menistakan. Menjadi pemenang namun tidak pernah merasa menang dan siap kalah untuk mengakui kesalahan. Ungkapan yang mudah namun sulit untuk dibuktikan karena betapa banyak manusia menjadi pemenang dengan cara kecurangan, penindasan, merusak kehormatan dan penipuan.

Sugih tanpo Bondo yakni kekayaan yang sejati bukan sebatas harta duniawi. Kekayaan sejatinya adalah derma kepada manusia, berbudi luhur dan menjadi rahmat bagi manusia. Jangan merusak tatanan bangsa ini namun rawatlah bangsa ini dengan cinta. Cinta kepada sesama dan cinta kepada yang berbeda. Jangan gila dengan pangkat, jabatan dan kehormatan yang pada akhirnya menggadaikan agama untuk memperoleh kekuasaan. Jangan jadikan agama sebagai tameng untuk merebut kekuasaan.

Wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga diatas sebagai nasehat bagi kita pada situasi kala ini dimana kebenaran dan kejahatan sukar dibedakan. Ayat Tuhan diperalat untuk mencari kekuasaan dan kejayaan politik. Firman Tuhan dipintir untuk mendapatkan nasi bungkus dan melayani nafsu setan.

Ayat Tuhan hilang kesuciannya karena "diperkosa" untuk memuluskan agenda Pilkada dan Pilpres. Kalam Tuhan memang tersebar dimana-mana namun hilang kesakralannya karena sudah menjadi mortir untuk mengkafirkan dan memusyrikkan manusia yang tak sepaham.

Ayat Tuhan tidak lagi dipahami sebagai permata kehidupan untuk memuliakan, mengayomi dan menenteramkan manusia. Tapi sebagai jurus yang ampuh untuk memaki-maki manusia agar masuk neraka. Do'a-doa suci tak lagi menjadi penawar dan penyembuh orang yang sakit justru doa suci diubah untuk mendoakan kejahatan, kebinasaan dan kemudharatan.

Antara firman dan kata-kata kotor dicampur aduk bagaikan adonan. Keluar kata-kata kebajikan namun juga keluar kata-kata kebajingan bak racun yang mematikan. Tiada lagi kata lain kecuali awas, waspadalah karena kejahatan tetap kejahatan dan takkan bersanding dengan kebaikan.

Para pengecut itu tiada lain adalah kelompok pengacau keamanan dan perusak negara. Merongrong negara dengan penistaan yang tak terkira. Teriak negara kafir, negara thaguth, negara Dajjal hingga negara setan. Bagaimana mungkin negara yang permai dan ijo royo-royo ini dianggap sebagai negara setan? Kata itu hanya terlontar dari mereka yang tidak berakal dan hilang kewarasannya.

Hati-hati dengan penipu yang berkedok syariah. Ingin merusak negara dan menjebol persatuan atas nama Tuhan. Tuhan yang manakah yang mereka sembah? Tuhan kami adalah Tuhan yang membawa pesan damai keseluruh semesta raya bukan Tuhan yang egois, merasa suci, merasa memonopoli Tuhan.

Ulama yang meneduhkan dicaci maki demi memuaskan ambisi. Tokoh moderat yang cinta damai dihina habis-habisan tanpa perasaan. Penjahat bertopeng ayat menebar kebencian disegala medan. Itulah gaya penista Tuhan yang sesungguhnya.

Saatnya kita menjadi pemenang tanpa merendahkan. Tumpas habis para perusak dan penebar kebencian. Bukan dengan cacian, hinaan dan makian namun dengan ketegasan. Siapa yang ingin merusak negeri ini maka wajib untuk dibenamkan. Persatuan diantara kita adalah kekuatan yang ampuh untuk mengalahkan para penebar kebatilan. Kebatilan pasti akan terkalahkan walau bersembunyi dibalik simbol-simbol Tuhan.

No comments:

Post a Comment

Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita

Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...