Friday, August 10, 2018
Gus Ishom: Nabi Tidak Pernah Tersesat, Segera Tinggalkan Para Ustadz Hijrah!
Sudah seringkali saya ingatkan agar setiap umat Islam berhati-hati agar mengambil ilmu agama langsung dari para ahlinya, yakni dari para ulama, kyai, ustadz, tuan guru, yang jelas mata rantai pengambilan ilmunya (isnad), telah populer akan kedalaman ilmunya dan kesalehannya. Jangan belajar justru secara kepada sembarang ustadz atau ustadz yang sembarangan.
Karena kini sebagian umat Islam sudah gampang memberi predikat ustadz kepada siapa saja yang pintar ceramah agama, pintar membual soal agama dan politik sambil sesekali melawak atau menghibur para pendengarnya, dan “berani” mengecam sana sini. Persoalan yang mereka panggil ustadz itu pada hakekatnya sungguh tidak paham ilmu-ilmu agama tidak menjadi masalah, karena mereka yang menggelarinya juga tidak paham.
Dunia keberagamaan kita kini sepertinya sudah jungkir balik dan penilaian masyarakat awam juga sudah terbalik-balik. Para tokoh agama yang dikenal luas dan mendalam ilmu agamanya, diperoleh dari silsilah/sanad keilmuan yang jelas, dan dikenal berakhlak baik tidaklah mereka gandrungi. Sebaliknya justru mereka benci, mereka fitnah dengan stigma-stigma negatif seperti Syi’ah, liberal, munafik, ulama su’, penjilat pemerintah dan sebagainya berupa kalimat-kalimat yang tidak menunjukkan adanya kesantunan dan kecerdasan dalam beragama itu sendiri.
Akibat buruk dari belajar agama secara instan kepada para ustadz “hijrah karbitan” adakah sebagian masyarakat menjadi terombang-ambing, kebingungan, dan labil dalam beragama. Para ustadz abal-abal yang sangat senang terkenal di media sosial itu karena tidak memunyai basis ilmu-ilmu keislaman yang kokoh dan disertai semangat yang menggelora menjadi sangat mudah tergelincir dalam menafsirkan ajaran agama, cenderung tekstualis, beragama secara eksklusif, sempit wawasan, tidak bijaksana, mudah menyalahkan pihak lain, menjadi intoleran, sesat dan menyesatkan, dan pada ujungnya mencari pengikut sebanyak mungkin untuk tujuan-tujuan yang bersifat duniawi.
Jejak-jejak digital di Youtube masih menyisakan berserakan bukti yang sangat mudah kita akses untuk sekedar melihat segala bentuk dan model “ustadz” yang sangat sembarangan dalam mengutip dalil, berupa al-Quran dan al-hadits, yang lepas dari konteksnya, dimaknai semaunya, diletakkan bukan pada tempatnya, dijelaskan tanpa landasan ilmu, disimpulkan sendiri hukum-hukumnya dengan mengikuti hawa nafsunya (tanpa syarat-syarat ilmiah dan syarat-syarat kepribadian), dikutip untuk menyerang siapa saja yang dianggapnya memusuhi atau merusak agama, dan tentu saja dipolitisasi untuk menjaring pengikut setia sebanyak-banyaknya. Para ustadz dengan karakteristik sebagaimana yang saya gambarkan itu hendaknya segera ditinggalkan dan janganlah diikuti karena telah jauh menyimpang dari rel agama, tidak membawa umat ke dalam hidup yang maslahat, melainkan menjerumuskan umat ke jurang kehidupan dunia-akhirat yang sangat berbahaya.
Contoh yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial adalah tentang seorang “ustadz hijrah” yang menyebut bahwa nabi Muhammad pernah termasuk sesat sebelum beliau diutus menjadi rasul dan oleh karena itu tidak boleh memeringati hari lahirnya.
Cukup jelas bahwa pernyataan itu dilatar belakangi oleh dorongan hawa nafsu karena menafsirkan kata “dlāllan” dengan kesesatan, suatu penafsiran yang tidak pernah dijelaskan oleh para mufasir kenamaan dalam kitab-kitab tafsir terdahulu.
Tentu kata “dlāllan” pada Qs. al-Dluha itu tidak bermakna sesat dalam arti tidak tahu atau menyimpang dari Islam, karena maksud firman Allah tersebut konteks (sabab nuzul)nya adalah menghibur Rasulullah dengan mengingatkan bahwa pada saat belum diturunkan wahyu kepadanya, beliau dalam kondisi bingung, yakni tidak mengetahui arah yang benar, hingga kemudian Allah memberikan petunjuknya. Dengan menelaah karya-karya tafsir al-Quran kita bisa mendapati beberapa versi penafsiran atas maksud kata “dlāllan” dalam Qs. al-Dluha itu dari para mufasir.
Tentu saja tidak cukup mengandalkan terjemah al-Quran dan sekedar tahu arti kosa kata bahasa Arab menurut kamus untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran yang memiliki makna yang sangat dalam itu. Ada sekian syarat ilmiah dan kepribadian untuk mampu menafsirkan ayat-ayat al-Quran yang tidak sembarang ustadz bisa memenuhinya.
KH Ahmad Ishomuddin
Sumber : http://www.suaraislam.co/gus-ishom-nabi-tidak-pernah-tersesat-segera-tinggalkan-para-ustadz-hijrah/
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita
Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...
-
Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...
-
Oleh Suryono Zakka 1. Islam adalah ajaran yang sempurna. Menolak liberalisme dan radikalisme. Tulisan kritis yang menolak disertasi Abd...
-
Permainan catur dibahas dari segi hukum Islam oleh para ulama terdahulu. Permainan catur bagi mereka memiliki pandangan hukum yang beragam. ...
-
Oleh Suryono Zakka 1. Virus Khilafah Virus ini adalah virus pemberontak. Virus nyinyiriyun anti Pancasila. Jika virus Corona tak terlih...
-
Oleh : Donnieluthfiyy Saya tidak tertarik mengkampanyekan Siapapun dari para Calon, karena siapapun yang terpilih bagi saya dia adalah ...
-
Info dari Ustadz Muafa (Syaikhul Pramukiyyin /Mantan Syabab HT), yaitu berkaitan dgn para senior/pembesar HT Pusat, khususnya yg ada di ...
-
Soeharto Lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921. Ia lahir dari keluarga petani yang menganut Kejawen. Keyakinan keluarga...
-
Dalam Islam, kita dibolehkan memandikan jenazah nonmuslim, terutama jika masih ada hubungan kerabat dengan kita. Kita tidak dilarang untu...
-
A. Secara Etimologis (Bahasa) 1. Menurut Al-Lihyani (w. 215 H) Kata Al-Qur'an berasal dari bentuk masdar dari kata kerja (fi...
-
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Ali Bin Yahya Al-Badawi beliau lahir di Kota Fes, Maroko pada tahun 596 H./1199 M adalah seorang imam sufi, wali...

No comments:
Post a Comment