Tuesday, January 23, 2018

Fenomena Akhir Zaman: Ketika Seleb Menyamar Jadi Ustadz dan Ulama


Sering kita jumpai orang yang berpenampilan sebagai ustadz atau ulama karena muncul ditelevisi bahkan ada juga yang seleb tobat kemudian menjadi ustadz. Hingga menjadilah sebagai ustadz atau ulama dadakan.

Bermodalkan hafalan sepotong ayat atau sepotong hadits yang didapat dari internet maka cukuplah kemudian disebut ustadz. Bermodalkan kelihaian kata-kata sehingga perkataannya dianggap berfatwa maka cukuplah disebut sebagai ulama bahkan bermodalkan sebagai mualaf dianggap sebagai satu-satunya idola.

Apakah tidak boleh selebritis bertaubat dan menjadi ustadz? Apakah tidak boleh selebritis ikut berdakwah? Boleh-boleh saja seleb bertaubat dan menjadi ustadz tapi harus bisa mengukur diri seberapa jauh pemahamannya terhadap ajaran Islam. Karena menjadi ustadz bukan hanya sekedar semangat menggebu-gebu dalam berdakwah tapi juga wajib diimbangi dengan pengetahuan agama yang mumpuni. Jika tidak, bukan pencerahan yang dilakukan tapi kerusuhan. Boleh saja seorang artis ikut berdakwah tapi wajib tahu strategi dakwah sehingga apa yang disampaikan dapat membawa perbaikan umat bukan malah menjadi biang keonaran.

Apakah seorang mualaf juga tidak boleh berdakwah? Tentu sangat boleh siapapun menyampaikan dakwah karena Islam adalah agama dakwah. Jika ingin sekedar berbagi pengalaman dengan masyarakat dengan kisah-kisah inspiratif hingga menemukan Islam sah-sah saja tapi umat harus tahu bahwa yang namanya mualaf belum tentu paham tentang segala seluk beluk keislaman. Namanya saja mualaf yang berarti orang yang menemukan hidayah Islam tentu tidak dapat dikatakan sebagai pakar agama.

Perlu dibedakan antara sharing atau curhat dengan menimba ilmu. Jika hanya sekedar curhat dan sharing maka kepada siapapun kita boleh berbagi namun jika menimba ilmu lebih-lebih ilmu agama maka kita tidak bisa sekedar hanya main-main atau sekedar curhat-curhatan melainnya menggalinya dari tokoh yang berkompeten dibidangnya yaitu ustadz atau ulama yang benar-benar terjamin keasliannya. Jelas track record dan sanad keilmuannya. Yaitu ulama atau ustadz yang genuine original dan bukan yang KW atau hasil permak. Akan menjadi masalah besar jika ustadz selebritis, atau ustadz mualaf jika dijadikan sebagai satu-satunya standar kebenaran.

Mengapa perlu selektif dalam menimba ilmu agama? Ya, memang harus selektif dan hati-hati karena menyangkut tentang agama yang pertanggungjawabannya diakhirat. Agama adalah standar nilai baik dan buruk yang akan menentukan gerak dan langkah hidup kita berada dijalan yang benar atau menyimpang.

Lantas, bagaimanakah ustadz atau ulama yang memang benar-benar berkaliber dan berkualitas? Sedikit saya beri bocoran, ustadz atau ulama yang berkualitas diantaranya tidak menebarkan hoax, SARA dan kebencian kepada kelompok atau umat yang berbeda. Tidak anti pemerintah. Kalaupun ada hal-hal yang tidak disukainya maka menyampaikan kritiknya kepada pemerintah dengan santun dan cinta kasih. Tidak anti Pancasila. Tidak merasa paling benar sendiri dalam beragama sehingga tidak mudah untuk mengeluarkan stigma dan cap-cap yang negatif seperti jurus kafir, munafik, bid'ah dhalalah, musyrik, thaguth dan jurus-jurus pengikut setan lainnya.

Ustadz atau ulama yang ori pastilah terdidik dari lembaga pendidikan yang jelas seperti dipesantren atau lembaga pendidikan yang jelas kualitas akademiknya. Bukan belajar agama instan hanya lewat google.

Ustadz atau ulama ori pastilah berakhlak mulia. Mereka bukan hanya sekedar paham agama tapu juga ahlinya dalam memuliakan manusia dan membahagiakan umatnya. Bukan yang hobinya memprovokasi, menakut-nakuti, mengancam atau mengobarkan kebencian diantara manusia.

Ustadz dan ulama yang sejati akan selalu mendamaikan dan menyebarkan ketenangan bagi manusia. Tugas mereka adalah menebarkan perdamaian dunia sehingga hukum-hukum Alllah dapat ditegakkan. Mengajarkan Islam dengan penuh kelembutan dan kasih sayang karena cacian dan hinaan bukanlah jalan penyelesaian akan tetapi awal dari peperangan.

Oleh sebab itu, jangan pernah tertipu dengan model penipu dan perusak umat yang sedang menyamar sebagai ustadz atau ulama. Serupa tapi tak sama. Dikatakan serupa karena sama-sama memakai pakaian khas keislaman tetapi substansi atau isinya berbeda. Yang asli, penuh dengan perdamaian sedangkan yang bajakan penuh dengan kebencian.

No comments:

Post a Comment

Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita

Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...