Friday, August 10, 2018
Pertaruhan Ideologi NU di Pilpres 2019
Oleh Abdir Rahman
Pendaftaran Capres & Cawapres sudah ditutup, dan ada 2 pasangan yang sudah mendaftar. Mereka adalah Joko Widodo - KH Ma'ruf Amin, dan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Diperkirakan Pilpres mendatang akan lebih panas karena tidak cuma memperebutkan kursi RI 1 & RI 2, namun juga mempertaruhkan nama ormas Islam terbesar di Indonesia dan juga pertaruhan ideologi negara.
Mengapa nama NU dipertaruhkan, padahal NU bukan organisasi politik? Karena Jokowi menggandeng pucuk pimpinan NU sebagai wakilnya, yakni KH Ma'ruf Amin yang saat dipilih Jokowi masih menduduki jabatan Rais Aam NU, sebuah jabatan tertinggi di tubuh NU.
Walau KH Ma'ruf Amin kan meninggalkan jabatan yang paling bergengsi NU karena menjadi cawapres, namun nama besar NU tetap dipertaruhkan dalam kancah Pilpres.
Jika calon dari NU menang, mereka yang memang sejak dulu anti NU akan terus menyerang NU. Apalagi jika sampai kalah, maka mereka akan semakin besar kepala dan menganggap NU itu ternyata lemah, serta akan semakin gencar dalam menghina NU beserta tokoh-tokohnya.
Sudah sejak lama mereka kontra dengan NU. Mereka secara gencar melakukan serangan dan merongrong eksistensi Jam'iyyah Nahdlatul Ulama, juga menyerang amaliah Ahlussunnah wal Jama'ah yang dipegang erat oleh organisasi para ulama Indonesia ini. Dengan berbagai macam cara baik melalui dunia nyata maupun dunia maya, kelompok-kelompok ini terus melakukan propaganda agar NU dan jama'ahnya tercerai berai.
Melihat fenomena ini, sulit bagi kita menganggapnya sebagai fenomena alamiah semata. Tidak perlu intelejen untuk menyimak betapa kebencian terhadap NU dan kiai-kiai NU berlangsung secara terstruktur, sistematis, dan massif. Pertanyaannya, siapa yang menggerakannya?
Secara ideologis, lawan NU telah kita ketahui. Kalangan Islam modernis yang pada masa lalu berafiliasi dengan Masyumi tidak pernah rela NU berpisah dari mereka. Kalangan yang selalu memimpikan terwujudnya persatuan Islam dalam khilafah ini menganggap NU adalah kerikil dalam sepatu.
Kondisi ini harus disadari dan menjadi perhatian seluruh warga NU. Warga NU pun harus sadar dengan terus menempa diri dengan pemahaman dan keyakinan dalam ber NU sekaligus mengarahkan para generasi penerus untuk terus mencintai NU.
Kenapa para tokoh NU seperti KH Ma'ruf Amin dan KH Said Aqil Siroj sering kali menjadi bahan bully (caci maki) di media sosial? Berbagai tuduhan negatif sering dialamatkan kepada Rais 'Aam dan Ketum PBNU ini.
Sering sekali pidato-pidato Ketum PBNU dipotong-potong. Yang terakhir pertemuan beliau dengan guru besar Al Azhar dipotong dan diterjemahkan semau-maunya. Tak jarang kita melihat di medsos yang isinya provokatif, menghasut untuk membenci beliau.
Sebenarnya warga NU yang telah lama diserang amaliah kesehariannya; seperti yasinan, tahlilan, maulid dan sebagainya, namun tidak pernah goyah dan mampu menjawab dengan hujjah naqli wa aqli (dalil tertulis dan akal).
Para kiai mampu memberikan pemahaman yang jelas dan sanad yang konkrit bagaimana pemikiran nahdliyin dan keilmuannya hingga sanadnya sampai ke Rasul. Maka habislah semua cara untuk menghancurkan NU.
Setelah tidak berhasil menyerang melalui amaliahnya dan mengetahui betapa kokohnya keyakinan dan pemahaman warga NU, kelompok ini pun menempuh jalur lain dengan memunculkan gerakan fitnah dan membunuh karakter tokoh-tokoh NU.
Modus baru ini rupanya lumayan mustajab. Terbukti ada warga NU yang terpengaruh dengan membuat NU garis lurus, garis keras dan sebagainya bahkan ada yang berprinsip bukan NU-nya Kiai said tapi NU-nya Mbah Hasyim Asy'ari.
Inilah yang menjadi tugas kita bersama sebagai warga NU untuk menjernihkan pikiran dan kembali menata barisan agar NU tetap solid dan tidak tercerai berai. Warga NU harus sadar sesadar-sadarnya bahwa kondisi ini merupakan provokasi dari pihak-pihak yang ingin NU hancur.
Mereka, khususnya para pengusung negara khilafah menggunakan prinsip bahwa untuk membuat negara khilafah maka harus menghancurkan NKRI, sedangkan NKRI tidak akan hancur selama NU masih berjaya. Maka matikan kepalanya niscaya badan dan ekornya ikut mati.
Kini, pasca pendaftaran Capres - Cawapres, mereka sudah masif melakukan serangan kepada KH Ma'ruf Amin.
Wahai para santri NU, apakah kalian ridho melihat Rais Aam NU diserang dengan berbagai fitnah?
Apakah kalian rela melihat kiai panutan kita dibunuh karakternya?
Wahai para Nahdliyyin, apakah kalian akan diam saja saat ideologi Pancasila diancam oleh mereka?
Wahai yang sering berteriak NKRI Harga Mati, apakah kalian senang jika Pancasila digantikan oleh khilafah yang mereka dengungkan?
Ini bukan sekedar Pilpres, tapi pertarungan ideologi, dan pertaruhan nama besar. Sekarang pilihannya ada pada kalian semua, terutama pada kaum Nahdliyin.
Bagi saya, NU adalah Jimat NKRI. Maka saya kan berusaha menangkal dan melawan mereka dengan memenangkan tokoh pimpinan NU yang ikut kontestasi Pilpres 2019.
Tanah Rantau, 11 Agustus 2018. 01.44 WIT
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita
Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...
-
Teknik dasar Naqsyabandiyah, seperti kebanyakan tarekat lainnya, adalah dzikir yaitu berulang-ulang menyebut nama Tuhan ataupun menyataka...
-
PENGERTIAN DAN DEFINISI AHLUSSUNNAH WALJAMAAH Ahlussunnah Wal Jamaah adalah aliran Islam terbesar yang prinsip dasar ideologinya adalah...
-
Dengan modal pengakuan itu, ditambah dengan banyak menyebut rujukan kitab² atau perkataan para ulama salaf, mereka berhasil meyakinkan ba...
-
Ada sebagian umat Islam yang menamakan diri mereka sebagai Salafi (nama lain dari sekte Wahabi) yang gemar mencela atau menuduh sesat ama...
-
Oleh Suryono Zakka Kita sepakat bahwa jika musik diikuti dengan lirik yang mengajak kepada kemaksiatan atau ditampilkan dengan biduan y...
-
Secara bahasa (etimologi), kata mu'jizat berasal dari kata اعجز- يعجز- اعجازا -معجز/معجزة yang berarti mengalahkan atau melema...
-
Shalat yang telah ditinggalkan dengan sengaja bagi yang sudah baligh wajib diganti yang disebut dengan qadha'. Hal ini berlaku ba...
-
Oleh Suryono Zakka Kelompok yang saat ini mencuat dan telah terkuak kejahatannya oleh pemerintah yang berinisial Muslim Cyber Army ...
-
Kau pembela kaum tertindas Kau penyelamat kaum minoritas Kau penyejuk kegersangan spiritualitas Kau pendidik kaum yang rindu moralit...
-
Oleh : Ahmad Najib AR Tulisan ini bukan hasil penelitian sejarah. Karena penelitian sejarah harus menggunakan kaidah ilmiah yang ketat,...

No comments:
Post a Comment