Tuesday, October 23, 2018
Bisakah Menghancurkan Banser?
Oleh : Tamara Zavieka Abdullah
Takbir, Allahu Akbar! Takbir, Allahu Akbar! Takbir, Allahu Akbar. Semoga kesucian kalimat takbir yang pernah membuat tenggelam para kolonial, PKI, BTI, pemberontak dan musuh bangsa ini, bisa membuka tabir siapa para pejuang yang sebenarnya dan siapa para penghianat sekaligus pemalak kedaulatan bangsa?
Banser & Yaqut itu siapa? Pangkat mereka apa? Sekumpulan buaya apa singanya Sang Saka penjaga kejayaan Pancasila? Baiklah.
Banser, pada mulanya dididirikan oleh seorang anak petani sederhana. Anak kampung yang gak tahu menahu soal negara apalagi politik. Makannya aja gaplek, tidurnya di amben bambu. Kesehariannya kumpul sama anak-anak warok, ngaji sama Kiyai lugu dan ah, bukan turunan ningrat apalagi darah bangsawan, sama sekali bukan, asal tahu aja!
Namanya Mohammad Zaenuddin Kayubi, bayi yang lahir dari seorang Ibu disuatu gubuk mungil, kampung Pengkol, Sumoroto, Ponorogo Jatim, 1 Januari 1926. Sekali lagi Kang Kayubi bukan sejajaran nama yang lahir dari keluarga intelektual, politisi ataupun negarawan negeri ini. Paham kan!
Anak petani yang sempat masuk barisan Hizbullah yang kemudian pernah menggelar pertempuran melawan Pemberontak, PKI dan Agresi Militer II Belanda inilah akhirnya menjadi tonggak penting berdirinya pasukan serba guna, BANSER.
Ketika situasi negara genting! Ketika kekuatan politik pemerintah yang hampir mengalami masa kritis, saat aqidah kaum Aswaja terkoyak-koyak dan pemberontak negara hendak menindas kaum papa. Kang Kayubi, dengan segala kekuatan cinta pada negara, pada kaum Aswaja dan pada rakyat jelata, dengan segenap jiwa raga tampil dengan ide briliannya merekrut pasukan berani mati yang dihimpun dari kalangan Santri. Tepat pada tahun 1964, dikota Blitar, Kang Kayubi mendirikan pasukan ala militer yang berbasiskan Santri dengan nama BANSER (Barisan Serbaguna.)
BANSER bukan ornamen alat politik partai, bukan milik perorangan ataupun bisa diklaim kepemilikannya oleh tokoh masyarakat tertentu. Pasukan berani mati itu adalah milik seluruh Kiyai dan para Santri NU se-Indonesia. Yang kemudian jiwa dan raga militan BANSER dihibahkan oleh para Ulama NU untuk menjaga kedaulatan bangsa, hingga titik darah penghabisan.
Maka jangan heran jika sikap para Kiyai NU dan pentolan militan NU lawasan tetap tenang tatkala mendengar, membaca atau bahkan melihat langsung pasukan elite para Kiyai yang tergabung dalam wadah BANSER itu dihujat, difitnah, dibully sampai dicaci maki dengan sebegitu keji. Karena memang sejak zaman Kang Kayubi, keberadaan BANSER selalu diteror secara sadis oleh para pemberontak bangsa dan para barisan anti Pancasila.
Sebenarnya para komplotan manusia tidak waras itu bukan saja tidak tahu terimakasih, bahkan mereka dengan segala kedengkiannya menganggap rendah serta murah perjuangan para Santri yang sempat merelakan raga serta darahnya berceceran di atas negeri gemah ripah sejak zaman Kewalian, pada masa penjajahan hingga peristiwa pemberontakan.
Bagi kami anak-anak NU militan yang sejak masih ingusan dibekali wajibnya mencintai Bangsa serta menghormati Ulama Aswaja pada akhirnya tidak akan pernah kaget apalagi panik saat mendengar Kakek kami, Ayah kami, Kakak kami ataupun Adik kami di ancam-ancam atau bahkan hendak akan dibantai habis-habisan, gara-gara berseragam BANSER.
Apalagi cuma slogan: HANCURKAN BANSER, TUMBANGKAN YAKUT, ah itu hanya suara siulan burung hantu yang lucu dan tak ubahnya senjata yang akan memakan tuannya sendiri, PAHAM.
Saya Tamara Zavieka Abdullah berani memastikan, sebenarnya maraknya gerakan BANSER 2 tahun terakhir ini hanyalah bentuk pemanasan dalam suatu pra-pertandingan. Tunggu saja saatnya, ketika para Ulama Sepuh yang tidak terjamah publik itu melempar tasbihnya di antara kerumunan pasukan elitenya. Jangankan gelombang ombak besar, tingginya gunung yang melintang pun akan mereka robohkan jika akhirnya menjadi penghalang kerukunan dan perdamaian umat manusia di negeri loh jinawi.
Akhir kata:
"Selamat Hari Santri Nasional Nusantaraku, Selamat Mendengar Ocehan Burung Hantu Yang Lucu BANSERKU dan Selamat Menjadi Kilatan Pedang Kiyai-Kiyai NU Gus Yaqut Cholil Qoumas KU" Takbir....
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita
Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...
-
Di Blitar pernah ada seorang kiai yang kharismatik yang keilmuannya dikenal dan dikagumi oleh kalangan istana negara. Muballigh kharismat...
-
Ini adalah kasus yg banyak wahabi tidak tau antara klompok “Wah_biyah dan Wahabi_yah” bedakan kata dan hurufnya. Ini menyangkut pendiri...
-
Di antara masalah furu’iyah yang diungkit-ungkit oleh kaum Wahabi adalah masalah ziarah kubur. Memang amaliyah warga kita yang satu ini m...
-
Oleh: Abdullah Murtadho (Ketua Persatuan Pelajar Ribath Alawiyah Hadramaut Yaman) Para ulama di Nusantara sejak dulu menganjurkan mem...
-
A. Cara Wahyu Turun kepada Malaikat 1. Allah langsung berfirman kepada malaikat. Ayat Al-Qur'an yang mengindikasikan bahwa wahy...
-
Yang namanya menyogok, tentu saja haram hukumnya. Sebab perbuatan menyogok atau suap itu melecehkan keadilan, menghinakan profesionalisme...
-
Oleh Suryono Zakka Dalam sebuah video, tokoh Wahabi bernama Yazid Jawaz mengatakan bahwa onani saat puasa hukumnya bersifat ikhtilaf atau...
-
Slogan kembali kepada Al-Qur’an dan hadits tidak boleh dimakan secara mentah. Jika semangat kembali kepada Al-Qur’an dan hadits hanya di...
-
Oleh Ustadz Musa Muhammad Dalam bahasan ilmu fiqih tentang wudhu, para ulama juga membahas pembatal² wudhu. Di antara perkara yg membatal...
-
Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin terus berupaya mendongkrak harga sawit di kalangan petani rakyat di bumi Serasan Sekate. Musi Banyuas...

No comments:
Post a Comment