Thursday, January 25, 2018
Refleksi Harlah NU: Semakin Dicinta, Semakin Mendunia
Peringatan Harlah atau hari lahir adalah sarana untuk mengenang kembali (refleksi) apa yang telah dilakukan dan bagaimana menatap kedepan untuk dapat lebih baik dalam menghadapi tantangan zaman.
Bagi NU, peringatan harlah bukan sekedar euforia belaka atau bernostalgia atas jasa-jasa dan kiprah yang telah dilakukannya untuk bangsa namun juga siap berevolusi bagaimana menghadapi tantangan kedepan yang jauh lebih berat dan lebih dahsyat.
Mengingat kembali amanah dari sang pendiri (muassis) NU yakni Hadratusy Syeikh KH. Hasyim Asy'ari bahwa NU berdiri atas dua hal yakni sebagai benteng Aswaja dan benteng NKRI. Dua hal inilah yang akan senantiasa menjadi tugas bersama bagi warga NU sepanjang sejarah dimuka bumi ini hingga akhir zaman.
Sebagai benteng Aswaja, NU berupa memproteksi umat Islam nusantara bahkan umat Islam diseluruh dunia dari berbagai aliran yang menyimpang yaitu akidah yang bertentangan dengan akidah Aswaja.
NU akan tetap konsisten menyebarkan paham Aswaja untuk mengawal perdamaian dunia. Melindungi umat Islam dari "virus" takfiri, radikalisme dan terorisme yang saat ini menjadi arus utama keruntuhan Timur Tengah. Konflik Timur Tengah dengan "virus" takfirinya telah merebak keberbagai belahan dunia hingga kenusantara. Untuk itulah, NU harus senantiasa siaga dan waspada dari ideologi radikalisme ini karena dapat menjelma dalam berbagai bentuknya.
Akidah Aswaja harus senantiasa dijaga dan dirawat sehingga akan selalu mewarnai kehidupan beragama dinusantara. Jika akidah Aswaja ini luntur dan hancur tidak menutup kemungkinan NU akan hancur dan begitu juga dengan NKRI.
Tugas kita untuk mewaspadai kelompok-kelompok takfiri anti NU yang senantiasa kian menunjukkan eksistensinya. Kelompok yang selalu menghujat amaliyah NU dengan provokasi dengan tujuan melemahkan akidah dan amaliyah NU. Kita tidak ingin generasi-generasi kita menjadi anti tahlil, anti maulid dan anti semua amaliyah Aswaja yang selama ini telah diwariskan secara turun temurun dari ulama yang benar.
Dalam bidang keaswajaan inilah kita harus senantiasa menyatukan komitmen untuk sama-sama berjuang sepenuh hati dalam menjaga akidah dan amaliyah agar tidak dirusak oleh kelompok perusak yang mengatasnamakan Islam.
Sebagai benteng NKRI, NU telah bertekad bulat untuk menjaga NKRI dan setia kepada Pancasila lahir dan batin. Bagi NU, Pancasila adalah final tanpa merk syariah dan khilafah. Warga NU akan berjuang menjaga NKRI hingga tetesan darah penghabisan.
Mencintai NKRI dengan segenap jiwa dan raga sebagai bentuk syukur kepada Allah atas anugerah negeri yang subur makmur dan ijo royo-royo yang tidak pernah ada duanya dan tidak pernah Allah berikan kepada bangsa manapun.
Warga NU yang anti Pancasila dan tergiur dengan ideologi asing dengan berbagai propagandanya adalah warga NU yang tidak mengetahui kesejarahan tentang perihnya memperjuangkan negara ini. Anti NKRI adalah pengkhianat bangsa yang tidak layak untuk hidup dinegeri ini.
Menolak Pancasila sama halnya dengan mengkhianati ulama pendiri bangsa ini. NKRI bukan didirikan oleh orang yang tidak paham agama melainkan ulama dan tokoh nasioanal yang jelas sangat paham tentang agama. Mereka mampu meramu dan mendialogkan antara agama dan semangat nasionalisme sehingga yang lahir adalah semboyan hubbul wathan minal iman. Itu artinya agama dan nasinalisme adalah dua hal yang tak perlu dipisahkan karena memang tidak dapat dipisahkan.
Warga NU harus senantiasa waspada terhadap kelompok dan ideologi perongrong NKRI. Walau mereka tersembunyi atau bahkan telah ditetapkan sebagai gerakan telarang, namun ideologi perongrong negara ini akan senantiasa hidup disetiap zamannya.
Warga NU tidak boleh tertipu dengan jargon-jargon agama atau simbol-simbol agama yang hanya digunakan sebagai alat politik atau apat merebut kekuasaan. Jika bukan NU, siapa lagi yang akan menjaga negeri ini. Warga NU bukan saatnya lagi mengalah akan tetapi harus menjadi pemenang dalam melawan kelompok radikal.
Kelompok radikal yang kian garang dan semakian berani unjuk kedepan menjadi tugas NU untuk membasminya. Sekecil apapun kelompok perusak harus segera dibasmi sebelum menjadi kelompok besar yang akan merusak negeri ini.
Semakin dewasa dalam menyongsong satu abad, NU semakin dicinta dan semakin mendunia. Bukan hanya menjadi penjaga nusantara tapi juga dalam menciptakan perdamaian dunia.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita
Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...
-
A. Secara Etimologis (Bahasa) 1. Menurut Al-Lihyani (w. 215 H) Kata Al-Qur'an berasal dari bentuk masdar dari kata kerja (fi...
-
Oleh Dr. Ahmad Hidayat Prof. Dr. KH. MA'RUF AMIN adalah Sang Kiyai mungkin satu-satunya di Indonesia bahkan mungkin di dunia yang d...
-
Oleh Suryono Zakka Setiap muslim tentu cinta dengan kalimat tauhid karena kalimat itulah sebagai penanda antara muslim dan non muslim. ...
-
Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi tuan rumah yang menyelenggarakan Konferensi Ulama Internasional untuk kedua kalinya setelah di...
-
Oleh Suryono Zakka NU memang bukan partai politik tapi NU memiliki kekuatan politik. Bahkan politik NKRI selalu dalam naungan politik N...
-
Di sekolah guru merupakan orang tua kedua bagi saya, tanpa ada guru saya tidak bisa belajar membaca, menulis, dan berhitung. Sebagaimana ...
-
Kemarau panjang mengurangi persediaan air minum atau air untuk sawah. Kemarau panjang juga membawa serta debu pada angin di jalan-jalan d...
-
Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren “Sabilul Muttaqin” dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik pe...
-
Oleh Suryono Zakka Yazid Jawas Al-Wahabi mempersoalkan umat Islam yang mencium mushaf Al-Qur'an. Menurutnya, memuliakan Al-Qur'an...
-
Oleh Suryono Zakka Sudah menjadi pemahaman Aswaja bahwa siapapun yang mengikuti Muhammad Bin Abdul Wahabi (MBAW) akan disebut Wahab...

No comments:
Post a Comment