Saturday, October 13, 2018
KH. Said Aqil Sirodj: Radikalisme dan Terorisme Bukan Akhlak Orang Indonesia
“Radikalisme dan terorisme itu “ghorib min akhlaqil indunisiyyin” asing bagi akhlak manusia Indonesia. Sebagai bangsa yang memegang tegus prinsip kewargananegaraan, yang artinya pula, menghargai hak dan kewajiban satu dengan yang lain, Indonesia menjadi landasan atas tegaknya prinsip Islam yang damai. Islam yang ramah, bukan Islam yang marah”. Begitulah pemaparan Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, M. A ketika menjadi pembicara di Haul Al Maghfurlah Simbah KH. M. Munawwir bin Abdullah Rosyad.
Sebelum mencetuskan statement tersebut, Ketua Umum PBNU itu menjelaskan terlebih dahulu bagaimana tekstur masyarakat Nusantara di era Hindhuisme sampai era Walisongo. Era Ratu Sima Kerajaan Kalingga yang menerima perwakilan dari Kerajaan Persia yaitu Syeikh Subakir untuk mensterilkan dedemit yang menghuni Jawy. Upaya itu berhasil, kecuali dua yang tidak mau dipindah dan masuk Islam yakni Sang Hyang Semar dan Sang Hyang Togog. Kemudian era Mbah Wasil Setono Gedong yang mengajarkan Kitab Asror kepada Raja Joyoboyo yang sekarang masyhur dengan sebutan Kitab Ramalan Joyoboyo. Hingga era Walisongo yang mencoba menkolaborasikan tradisi hindhuisme awal di Indonesia dengan ajaran-ajaran Islam.
Beliau lalu melanjutkan komentarnya mengenai isu-isu radikalisme dan terorisme. “Radikalisme pertama dalam Islam adalah pembunuhan Sayyidina Ali bin Abi Tholib oleh Abdul Muljam At-Tamimy”. Muljam sendiri merupakan orang yang taat beribadah, gemar berpuasa, suka qoimul lail, pun hafal Al Qur’an. Tapi sikapnya membunuh Sayyidina Ali, tentu sangatlah bertentangan dengan kesehariannya yang demikian tersebut. Dalam konteks Nusantara, beliau menegaskan, apabila berpijak pada rukun budaya nusantara, radikalisme dan terorisme itu “ghorib min akhlaqil indunisiyyin” asing bagi akhlak manusia Indonesia.
Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, M.A, dalam Mauidhoh Hasanah-nya juga menyampaikan, bahwasannya bid’ah bagi orang Indonesia bukanlah hal yang tabu. Melestarikan–yang dianggap orang lain sebagai bid’ah–pun demikian, adalah keharusan. Apalagi bid’ah tersebut (beliau mencontohkan selametan, kendurian, haul, tahlil) diisi dengan ajaran-ajaran Islam. Seperti halnya metode dakwah Walisongo tatkala menyebarkan Islam di Tanah Jawi yang, mengasimilasikan dan mengakulturasikan budaya dengan agama.
Dari uraian tersebut, beliau mengakumulasikan budaya sebagai infrastuktur agama. Sebab, beliau menyitir maqolah, “Islam bukan melulu hanya berbicara Aqidah dan Syari’at. Akan tetapi, Islam merupakan Agama berbudaya, berperadaban, bertamaddun dan berkemanusiaan”.
Ketua Umum PBNU itu juga membawa audiens untuk memahami dan menyelami makna Islam Nusantara secara kolektif. Bahwa Islam Nusantara adalah representasi dari Islam di Indonesia yang santun, damai, menjaga persaudaraan, menghormati hak orang lain, menjaga kedaulatan Negara dan mempertahankan Asas Binnheka Tunggal Ika yang oleh Nahdlatul Ulama disuarakan dengan sangat, sedari dua tahun yang lalu.
Kiai Said sendiri setelah mengisi mauidhoh hasanah bergegas beramah-tamah di kediaman KH. R. M. Najib Abdul Qodir. Lantas, alumni Pesantren Krapyak di tahun 1972-1975 tersebut menyempatkan diri beramah tamah di kediaman KH. Attabik Ali, dan KH. Jirjiz Ali dan di Komplek L, sebelum kembali ke tempat beliau menginap. (Pimred Media)
KH. Said Aqil Sirodj : “Radikalisme dan Terorisme itu Asing bagi Akhlak Manusia Indonesia”
“Radikalisme dan terorisme itu “ghorib min akhlaqil indunisiyyin” asing bagi akhlak manusia Indonesia. Sebagai bangsa yang memegang tegus prinsip kewargananegaraan, yang artinya pula, menghargai hak dan kewajiban satu dengan yang lain, Indonesia menjadi landasan atas tegaknya prinsip Islam yang damai. Islam yang ramah, bukan Islam yang marah”.
Sebelum mencetuskan statement tersebut, Ketua Umum PBNU itu menjelaskan terlebih dahulu bagaimana tekstur masyarakat Nusantara di era Hindhuisme sampai era Walisongo. Era Ratu Sima Kerajaan Kalingga yang menerima perwakilan dari Kerajaan Persia yaitu Syeikh Subakir untuk mensterilkan dedemit yang menghuni Jawy. Upaya itu berhasil, kecuali dua yang tidak mau dipindah dan masuk Islam yakni Sang Hyang Semar dan Sang Hyang Togog. Kemudian era Mbah Wasil Setono Gedong yang mengajarkan Kitab Asror kepada Raja Joyoboyo yang sekarang masyhur dengan sebutan Kitab Ramalan Joyoboyo. Hingga era Walisongo yang mencoba menkolaborasikan tradisi hindhuisme awal di Indonesia dengan ajaran-ajaran Islam.
mengenai isu-isu radikalisme dan terorisme. “Radikalisme pertama dalam Islam adalah pembunuhan Sayyidina Ali bin Abi Tholib oleh Abdurrahman bin Muljam At-Tamimy”. Muljam sendiri merupakan orang yang taat beribadah, gemar berpuasa, suka qoimul lail, pun hafal Al Qur’an. Tapi sikapnya membunuh Sayyidina Ali, tentu sangatlah bertentangan dengan kesehariannya yang demikian tersebut. Dalam konteks Nusantara, beliau menegaskan, apabila berpijak pada rukun budaya nusantara, radikalisme dan terorisme itu “ghorib min akhlaqil indunisiyyin” asing bagi akhlak manusia Indonesia.
Melestarikan–yang dianggap orang lain sebagai bid’ah–pun demikian, adalah keharusan. Apalagi bid’ah tersebut (beliau mencontohkan selametan, kendurian, haul, tahlil) diisi dengan ajaran-ajaran Islam. Seperti halnya metode dakwah Walisongo tatkala menyebarkan Islam di Tanah Jawi yang, mengasimilasikan dan mengakulturasikan budaya dengan agama.
Dari uraian tersebut, beliau mengakumulasikan budaya sebagai infrastuktur agama. Sebab, beliau menyitir maqolah, “Islam bukan melulu hanya berbicara Aqidah dan Syari’at. Akan tetapi, Islam merupakan Agama berbudaya, berperadaban, bertamaddun dan berkemanusiaan”.
Ketua Umum PBNU itu juga membawa audiens untuk memahami dan menyelami makna Islam Nusantara secara kolektif. Bahwa Islam Nusantara adalah representasi dari Islam di Indonesia yang santun, damai, menjaga persaudaraan, menghormati hak orang lain, menjaga kedaulatan Negara dan mempertahankan Asas Binnheka Tunggal Ika yang oleh Nahdlatul Ulama disuarakan dengan sangat, sedari dua tahun yang lalu.
Krapyak, 09 Maret 2017 / 11 Jumadal Akhiroh 1438 H
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita
Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...
-
Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...
-
Meskipun Najwa Shihab di pecat dari Acara Mata Najwa ... ayah nya ( Prof.Quraish Shihab ) ..... membekali Najwa Shihab dg nasihat yg bag...
-
Ketentuan yang masyhur dalam mazhab Syafi’i tentang air yang terkena najis adalah: jika volume air sudah sampai dua qullah (216 liter atau ...
-
Mencegah kehamilan dengan alat kontrasepsi (KB) atau dengan mengeluarkan air spermanya di luar kemaluan perempuan itu hukumnya boleh tapi...
-
Oleh Suryono, S.Th.I Silabus ini dibuat untuk perkuliahan di Sekolah Tinggi Agama Islam Rahmaniyah (STAIR) Sekayu, Kampus E, Pondok Pes...
-
Aksi terorisme yang kian parah, mengundang perhatian kita bersama untuk melakukan berbagai upaya dalam membendungnya sehingga tidak sema...
-
Al-Musnid Al-Ashr Syeikh Yasin Al-Fadani menyebutkan bahwa siapa saja yang meriwayatkan hadits, baik yang memiliki ilmu tentangnya atau t...
-
___(Ngelmu Kyai Petruk)___ Kuncung ireng pancal putih, Swarga durung weruh, Neraka durung wanuh, Mung donya sing aku weruh, Uripku ...
-
Ada beberapa redaksi hadits yang mengindikasikan tentang kebolehannya meminum air kencing unta sebagai terapi atau pengobatan. Diantara...
-
Kekafiran Penyihir Para ulama berbeda pendapat tentang seorang muslim yang menggunakan sihir, apakah dia kafir keluar dari agama Islam,...

No comments:
Post a Comment