Friday, November 30, 2018
Fenomena Habib Bahar bin Smith: Ilmu Tanpa Akhlak, Nasab Tanpa Adab
Tak diragukan Bahar FPI memiliki nasab yang baik. Dia berceramah di majelis yang mulia. Ia belajar dari lembaga pendidikan Islam yang bagus. Tapi mengapa ceramahnya penuh dengan caci maki, pelecehan, penghinaan dan kekerasan?
Inilah fenomena yang disebut: ilmu tanpa akhlak dan nasab tanpa adab. Ilmu tanpa akhlak ibarat seorang pencuri. Siapa yang meragukan pencuri punya ilmu? Bahkan ahli. Tapi ilmu dan keahliannya dipergunakan untuk mencuri. Semakin tinggi ilmu dan keahlian pencuri itu, maka ia makin berbahaya.
Nasab tanpa adab ibarat makanan yang secara lahirnya indah tapi rasanya busuk dan rusak. Siapa yang mau memakannya?
Bahar FPI harus berurusan dengan polisi karena ceramahnya. "Kalau ketemu Jokowi kamu buka celananya itu. Jangan-jangan haid Jokowi itu, kayaknya banci itu." Kata Bahar FPI pada sebuah majelis maulid di Palembang Sumatera Selatan.
Layakkah ucapan ini jadi bahan ceramah di sebuah majelis maulid yang mulia? Bukankah maulid adalah peringatan lahir Nabi Muhammad Saw yang dikenal sebagai "manusia mulia penuh welas asih" bahkan Allah Swt tidak mengurus beliau kecuali (tidak ada yang lain), menjadi rahmat, berkah, kasih sayang pada alam semesta?
Pastilah Bahar FPI hafal betul ayat "wa maa arsalnaka illa rahmatan lil alamin" (Tidaklah Kami mengurus engkau [wahai Muhammad] kecuali menjadi rahmat untuk alam semesta). Lantas mengapa lidah Bahar FPI justeru mengumpat, mencela dan menjadi laknat pada perayaan manusia paling mulia yang menjadi rahmat?
Saya tak meragukan Bahar FPI berilmu, tapi yang kita sayangkan minus akhlak di situ. Lagi-lagi kita diingatkan pada hadits Nabi Muhammad Saw yang mengaku bahwa beliau diutus hanya untuk: menyempurnakan akhlak. "Innamaa bu'itstu li utammima makarimal akhlaq". Saking pentingnya akhlak, ulama terdahulu memprioritaskan menimba akhlak lebih dulu setiap ilmu. Bahkan waktu untuk mempelajari akhlak lebih banyak daripada mencari ilmu. Umumnya di pondok pesantren seorang santri kelas dasar diperkenalkan lebih dulu kitab kecil Akhlaqul Banin.
Imam Malik Ra pernah berkata:
تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”
Seorang ahli hadits Ibnu Al-Mubarak Ra pernah memberikan pengakuan tentang generasi ulama salaf:
تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين عاما.
“Kami mempelajari adab selama 30 tahun, dan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”
Meskipun beliau ahli hadits yang artinya menguasai hadits-hadits Nabi namun menurut beliau, akhlak paling utama yang dicari!
نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من الحديث”
“Kami lebih membutuhkan banyak adab daripada banyaknya hadis”
Tak diragukan pula Bahar FPI memiliki nasab yang mulia. Tapi apa arti nasab yang mulia tanpa adab? Guru saya pernah bilang, memiliki nasab yang mulia lebih dipahami sebagai tanggung jawab untuk menjaga kehormatan nasab daripada membanggakannya. Bukankah kemuliaan itu berdasarkan adab bukan karena nasab?
الشرف بالأدب لا بالنسب
Kemuliaan karena adab bukan karena nasab
Orang bisa dimuliakan karena adabnya, tapi orang yang hanya mengandalkan nasab tapi tidak punya adab tidak akan pernah dimuliakan.
Ini pepatah yang sangat populer di kalangan bangsa Arab.
Ucapan Bahar FPI "Kalau ketemu Jokowi kamu buka celananya itu. Jangan-jangan haid Jokowi itu, kayaknya banci itu" tanpa perlu ilmu yang tinggi dan akhlak yang luas ucapan Bahar FPI ini mencerminkan pelecehan dan penghinaan. Tak usah ke Jokowi yang merupakan pemimpin kita, Presiden Republik Indonesia, kepala negara dan kepala pemerintahan, ucapan Bahar itu tetap menghina kalau pun diarahkan pada orang yang biasa, apalagi pada presiden?
Bagaimana reaksi anda, saat ada yang bilang ke anda "buka celananya!" Kemudian dikaitkan dengan haid. Ini pelecehan seksual terhadap perempuan, haid dipakai untuk merendahkan dan menghina. Apa yang salah dengan haid? Kenapa dipakai untuk menghina? Bukankah kita dan juga Bahar FPI juga lahir dari perempuan yang haid? Menghina haid berarti menghina ibu kita.
Kemudian disebutkan kata "banci", yang istilah ini negatif di kalangan kita untuk menyebut seseorang pengecut. Tapi banci, yang istilah netalnya waria, bukanlah orang pengecut, banyak dari mereka yang kerja halal dan menampakkan dirinya meski tidak jarang ditolak. Tapi intinya mereka bukan pengecut karena berani menunjukan identitasnya.
Justeru orang pengecut banyak dari kalangan yang menggunakan agama sebagai kedok kejahatan dan makian. Agama dijadikan topeng untuk kelakuan busuk. Merekalah pengecut.
Tapi adakah banci yang haid? Banci berjenis kelamin laki-laki pastinya tidak akan bisa haid. Ucapan Bahar FPI memang ngawur, tapi sepertinya meski ngawur yang penting bagi dia cuma mau memaki dan melecehkan Jokowi.
Kini, Bahar FPI harus berurusan dengan hukum. Kalau polisi nantinya memproses dia merupakan penegakan hukum bukan kriminalisasi. Apalagi disebut kriminalisasi ulama, karena tidak ada ulama yang berkata kasar, menghina dan melecehkan orang lain. Jangankan pada seorang presiden, pada orang biasa pun ulama tidak akan pernah melakukan.
Penulis : Mohamad Guntur Romli
Source : http://www.gunromli.com/2018/11/fenomena-bahar-fpi-ilmu-tanpa-akhlak-nasab-tanpa-adab/
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita
Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...
-
Islam Nusantara adalah Islam yang hidup dan dipahami oleh masyarakat muslim Nusantara. Ia bukan madzhab dan bukan pula sempalan agama ba...
-
Oleh Suryono Zakka Suara NU sebagai suara mayoritas selalu dipertaruhkan dalam arena politik terutama dalam Pileg dan Pilpres. Tak heran j...
-
Kau pembela kaum tertindas Kau penyelamat kaum minoritas Kau penyejuk kegersangan spiritualitas Kau pendidik kaum yang rindu moralit...
-
Kita semua sepakat bahwa Islam adalah agama rahmat bagi sekalian alam. Agama Islam bukan hanya untuk bangsa Arab namun juga untuk bang...
-
Oleh Suryono Zakka Sungguh kemuliaan bagi orang yang dikaruniai Allah kemampuan menghafal Al-Qur'an. Mereka akan dimuliakan oleh ...
-
Sepanjang yang saya ketahui, jomblo dapat diklasifikasikan menjadi tiga yakni: 1. Jomblo Pasif Jomblo jenis ini adalah jomblowan dan ...
-
Kata fitnah berakar dari kata fatana. Ketika seseorang berkata fatantu al-fidhdhah wa al-dzahab, artinya adalah bahwa ia membakar perak...
-
Komponen Islam terhimpun dalam tiga konsep yaitu akidah, syariah dan akhlak yang kemudian dikenalkan Rasulullah sebagai pilar Iman, Islam...
-
Ada beberapa redaksi hadits yang mengindikasikan tentang kebolehannya meminum air kencing unta sebagai terapi atau pengobatan. Diantara...
-
Oleh Suryono Zakka Hal inilah yang menjadi perbincangan terutama warga NU, baik yang merespon positif maupun negatif. Menyikapi keputusan...

No comments:
Post a Comment