Saturday, April 21, 2018
Masjidku Sayang, Masjidku Malang: Selamatkan Masjid Kita dari Upaya Politisasi Agama!
Masjid berarti tempat sujud. Tempat beribadah bagi umat muslim. Tempat yang sakral karena disebut dengan rumah Allah. Rumah yang didalamnya digunakan untuk menyembah Allah, mengagungkan-Nya, berdzikir kepada-Nya dengan penuh rasa tunduk dan khusyuk.
Apa jadinya jika masjid dijadikan sebagai tempat kampanye, tempat orasi politik dan tempat untuk mengeruk suara mencari massa. Tentu hilanglah kesucian dan kesakralannya. Jika demikian yang terjadi, maka tidak layak untuk disebut sebagai masjid melainkan panggung politik.
Maraknya masjid sebagai orasi politik karena masjid dianggap sebagai bagian dari bassis massa yang mudah untuk ditemui dan diprovokasi. Mudah untuk dijadikan sebagai tempat menyampaikan orasi karena tipikal masyarakat yang penurut dan sedikitnya nalar kritisisme. Akibatnya, mereka sulit untuk membedakan mana orasi politik dan mana pesan agama. Atau sang orator mencampuradukkannya, sehingga pesan agama menjadi rasa politik atau politik berbungkus dalil agama. Sungguh memilukan.
Politik bagaimana umat Islam bisa bangkit, mandiri dan maju tidak masalah dibicarakan dimasjid. Politik bagaimana agar umat Islam bisa kreatif, berdaya, terangkat ekonominya hingga menjadi orang-orang yang sukses dan memberikan manfaat bagi manusia lainnya tidak masalah dibicarakan dimasjid.
Namun jika yang dibicarakan agar umat memilih salah seorang tokoh tertentu yang akan maju di Pilpres, Pilkada dan Pilkades maka hal ini akan menjadi masalah. Apalagi jika masjid digunakan untuk mencela, mencaci maki dan menghujat manusia atau seorang tokoh tertentu maka rusaklah fungsi dari masjid tersebut dan lenyap sakralitasnya.
Seluruh umat muslim hendaknya senantiasa proaktif dalam memberdayakan masjid. Masjid yang maju bukan karena jamaah yang maju barisannya karena shaf jamaahnya hanya sedikit dan bukan pula hanya digunakan untuk aktivitas ritual. Masjid juga dapat digunakan sebagai aktivitas diskusi ilmiah, tersedianya perpustakaan untuk menambah pengetahuan, pemberdayaan masyarakat dan sebagainya.
Jika tidak dimonitoring dan diberdayakan, maka masjid akan sepi, jauh dari aktivitas keagamaan dan keilmuan. Bahayanya, bisa diserobot atau dipakai oleh kelompok asing pendatang yang berpaham radikal. Seolah menghidupkan masjid namun diisi untuk menebar teror, provokasi dan memecah belah persatuan umat.
Betapa banyak masjid yang didirikan dengan tujuan untuk menghujat aktivitas keagamaan umat muslim lainnya. Agar tidak terjadi aktivitas yang demikian maka diperlukan kerjasama dari berbagai pihak agar tidak terjadi penyalahgunaan fungsi masjid.
Takmir masjid atau petugas kesejahteraan masjid sangat berperan penting terhadap maju dan mundurnya aktivitas keagamaan dimasjid. Perlunya mereka istiqamah dalam memanajerial masjid walau disela-sela aktivitas keseharian yang padat.
Perlunya peningkatan kualitas dari petugasnya meliputi muadzin, imam dan penjaga masjid sehingga ghirah masyarakat sekitar untuk datang kemasjid semakin meningkat. Juga perlunya kesadaran dan pemahaman yang memadai bagi masyarakat tentang keutamaan shalat berjamah dimasjid.
Mari jaga, awasi dan berdayakan masjid kita! Jangan sampai kita menyesal jika masjid kita telah diserobot atau dipakai oleh komunitas kelompol lain yang berseberangan dan bertentangan dengan pemahaman keislaman yang kita miliki. Mari proteksi masjid agar tidak menjadi ajang kampanye dan orasi politik sehingga masjid benar-benar sebagai tempat yang suci, menjadi tempat pemberdayaan umat dan steril dari "pengotoran" masjid sebagai ajang kampanye.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita
Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...
-
A. Secara Etimologis (Bahasa) 1. Menurut Al-Lihyani (w. 215 H) Kata Al-Qur'an berasal dari bentuk masdar dari kata kerja (fi...
-
Oleh Suryono Zakka Setiap muslim tentu cinta dengan kalimat tauhid karena kalimat itulah sebagai penanda antara muslim dan non muslim. ...
-
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Ali Bin Yahya Al-Badawi beliau lahir di Kota Fes, Maroko pada tahun 596 H./1199 M adalah seorang imam sufi, wali...
-
Bismillahirrohmaanirrohiim. “ Asyhadu allaa ilaaha illallooh wa asyhadu anna muhammadar rosuululloh. ” Segala puji bagi Allah SWT yang...
-
Oleh Dr. Ahmad Hidayat Prof. Dr. KH. MA'RUF AMIN adalah Sang Kiyai mungkin satu-satunya di Indonesia bahkan mungkin di dunia yang d...
-
Oleh Dedy Yanwar Banyak orang yang menganggap wahabisme adalah representasi Islam yang paling puritan, bahkan dianggap juga menjadi aka...
-
Alkisah ada ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim yg kuat sekali tahajudnya. Hampir ber-tahun2 dia tidak pernah absen melakukan sholat tahaj...
-
Dialog kebangsaan yang dilaksanakan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto melakukan dialog dengan pet...
-
Oleh: Jamaluddin Mohammad Membincangkan dinamika dan wacana kesenian dan kebudayaan dalam dunia pesantren seolah sepi dan tidak begitu ...
-
Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi tuan rumah yang menyelenggarakan Konferensi Ulama Internasional untuk kedua kalinya setelah di...

No comments:
Post a Comment