Monday, January 20, 2020
Beragama Tapi Kehilangan Etika
Oleh Suryono Zakka
Mengaku beragama tapi lisannya tajam berbisa. Siapa yang tak sepaham, kau cela habis-habisan. Sebenarnya engkau mualaf atau hanya misionaris yang ingin merusak Islam dari dalam.
Engkau boleh berbeda tapi tak layak engkau mencela. Apalagi yang kau cela adalah sosok panutan yang sudah punya andil bagi bangsa. Sedangkan kau? Ah, baru kemarin belajar agama, berlagak paling ahli segalanya.
Aku tak mengaku paling beragama walau aku sudah lama belajar agama. Bukan hanya sekedar karbitan atau instan. Tak pula menjual tampang dan cuitan. Tapi aku menaruh hormat dan cinta pada setiap perbedaan.
Jika tak sependapat, jawablah dengan argumen yang berkelas. Bukan kata-kata buas. Keluarkanlah dalil-dalil yang ilmiah dan beradab. Bukan celotehan tanpa adab. Akupun tak senada, tapi aku tak akan berlaku hina dan menista.
Agama tanpa akhlak, begitulah jadinya. Jumawa seolah pemegang kunci surga. Dalil sakral menjadi senjata, menghantam siapa saja yang tak sekata. Untungnya, tak banyak yang berperilaku sepertinya walau fitnahnya tiada tara.
Beragama tak cukup hanya kepintaran. Tanpa adab dan akhlak, akan kehilangan arah dan tujuan. Yang dituju bukan Tuhan tapi nafsu dan kesombongan. Akibatnya, tauhid hanya menjadi umbul-umbul, topi dan bendera pajangan. Sambil takbir dijalanan.
Dengan mengenal Islam, seharusnya engkau menebar damai dan kerahmatan. Mencintai makhluk Tuhan yang beraneka ragam. Bukan mengumbar celaan. Saya jadi ragu. Sebenarnya kau ini mendapat hidayah atau malah tersesat semakin dalam.
Jika engkau mengaku muslim namun Islam semakin tercoreng dengan kehadiranmu, lantas apa manfaatnya kau mengenal Islam? Jangan-jangan kau belum kenal Islam, kecuali hanya dari bungkusnya. Itupun bungkus yang dibawa kaum pembawa gonjang-ganjing dan penebar fitnah akhir zaman.
Apakah kau perlu diajari tata krama dan adab oleh guru-guru kami agar lebih lembut dalam bertutur? Ataukah kau perlu beri pelajaran agar tak semakin beringas tak karuan? Ah, nanti pasti kau akan teriak kriminalisasi ulama. Terus pasukanmu akan mengerahkan demo entah jilid yang keberapa.
Semoga kau semakin dewasa dalam beragama. Tak angkuh lagi tapi semakin lembut hati. Kau boleh mengaku benar tapi jangan kau musuhi orang-orang yang kau anggap tak benar. Agama itu menyemai perdamaian, bukan menyulut permusuhan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita
Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...
-
Ketentuan yang masyhur dalam mazhab Syafi’i tentang air yang terkena najis adalah: jika volume air sudah sampai dua qullah (216 liter atau ...
-
Oleh Suryono Zakka 1. Islam adalah ajaran yang sempurna. Menolak liberalisme dan radikalisme. Tulisan kritis yang menolak disertasi Abd...
-
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, صلوا كما رأيتموني أصلي -رواه البخاري "Shalatlah kamu seperti yang kamu liha...
-
Oleh Suryono Zakka Siapapun kenal dengan sosok kiai kharismatik ini. Tidak heran jika wafatnya beliau ditangisi oleh umat manusia. Buka...
-
Budaya selamatan setelah hari kematian seseorang dengan tahlilan dan walimahan— baik dalam 7 hari, 40 hari, 100 hari atau 1000 hari—adal...
-
Penyakit Tidak Menular (PTM) setiap tahunnya menjadi persoalan serius di tiap daerah, pola hidup yang tidak sehat menjadi pemicu awal dar...
-
Oleh Suryono Zakka Mengaku beragama tapi lisannya tajam berbisa. Siapa yang tak sepaham, kau cela habis-habisan. Sebenarnya engkau mual...
-
Prof. Quraish Shihab mendapatkan anugerah atas jasanya dalam bidang keIlmuwan Islam oleh Mesir Pemerintah Mesir Anugerahkan Bintang Tan...
-
Oleh Suryono Zakka Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA adalah pakar tafsir se-Asia Tenggara. Mantan Menteri Agama dengan banyak prestasi hi...
-
Kondisi ruas jalan lintas Peninggalan Muba-Jambi yang seringkali membuat kendaraan roda empat terjebak dan menjadi penyebab kemacetan tam...

No comments:
Post a Comment