Thursday, July 16, 2020
Apakah Islam Agama Perang?
Oleh Suryono Zakka
Ada sebagian kelompok menganggap bahwa Islam agama perang yakni agama yang mengajak pada pertumpahan darah. Pemahaman ini muncul dari kelompok diluar Islam atau Barat yang tidak memahami sepenuhnya ajaran Islam dan juga muncul dari kelompok internal umat Islam (kelompok radikal) yang gagal paham memahami konsep jihad.
Baik Barat maupun kelompok radikal memahami Islam sebagai agama perang dengan alasan didalam Al-Qur'an tercantum banyak ayat tentang jihad dan qital (perang) serta nabi Muhammad menyebarkan Islam dengan menghunus pedang bahkan nabi Muhammad memimpin banyak peperangan.
Pemahaman Barat dan kelompok radikal yang demikian tidaklah benar bahkan menyimpang dari pemahaman Islam yang sebenarnya. Islam adalah agama damai, agama keselamatan. Bukan agama perang. Bukan agama yang suka menghunus pedang. Bukan agama yang mengajak untuk membunuh dan menumpahkan darah.
Berikut saya uraikan bukti-bukti bahwa Islam adalah agama damai, bukan agama perang diantaranya:
1. Islam berarti damai, tenteram, selamat dan sejahtera.
Nama "Islam" secara bahasa terambil dari kata salam yang berarti perdamaian atau keselamatan. Bahkan dalam setiap pertemuan dan perpisahan, umat Islam diperintahkan untuk mengucapkan salam alias menebar perdamaian.
2. Porsi ayat perdamaian lebih banyak dari ayat perang.
Al-Qur'an memang membahas tentang perang dan jihad namun porsi ayat tentang perdamaian lebih banyak dari peperangan. Bahkan surganya umat Islam adaah darussalam yang berarti negeri yang damai. Munculnya ayat perang didahului oleh motif tertentu sehingga tidak muncul dari ruang hampa. Memahami ayat perang dan jihad diperlukan pemahaman tentang sosio-historis ayat (asbabun nuzul). Atau asbabul wurud dalam bidang hadits.
3. Rasulullah berperang untuk menyelamatkan eksistensi umat Islam.
Rasulullah memang memimpin banyak peperangan dalam rekaman sejarah. Namun peperangan rasulullah bukanlah alasan rasulullah gemar berperang namun dalam rangka menyelamatkam eksistensi umat Islam.
Rasulullah berperang dengan alasan karena umat Islam dimusuhi, terlebih saat umat Islam masih minoritas. Rasulullah berperang dalam rangka memberi pelajaran bagi para pengkhianat yang telah merusak perjanjian damai dengan umat Islam.
4. Rasulullah membuat piagam perdamaian yang disebut Piagam Madinah.
Piagam Madinah sebagai bukti bahwa tatkala umat Islam sudah menjadi mayoritas tidak akan menindas minoritas. Bahkan sebaliknya, ketika umat Islam masih minoritas, kerap ditindas oleh kaum musyrik, kaum munafik dan ahli kitab.
Piagam Madinah menyatukan elemen bangsa dalam satu kesatuan yakni negara Madinah yang didalamnya beragam agama dapat hidup secara berdampingan dan saling menghormati dengan semangat toleransi.
5. Rasulullah mengumandangkan salam perdamaian saat Fathu Makkah.
Jika kita membaca sejarah, betapa sadis dan bengisnya kebencian kaum musyrikan kepada umat Islam. Rasulullah dan umat Islam ditindas bertubi-tubi. Kepedihan dan penindasan yang kronis, akhirnya umat Islam hijrah ke Yatsrib. Saat Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah), rasulullah dan umat Islam tidak membalas dendam kepada penduduk Mekah. Rasulullah memaafkan seluruh kebiadaban penduduk Mekah dahulu.
6. Islam Nusantara ala Wali Songo
Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad semakin kental dengan ajaran perdamaian jika kita mempelajari dakwah Wali Songo. Islam Nusantara yang didakwahkan dengan arif, bijak dan toleran meneladani dakwah nabi. Islam yang diperkenalkan oleh para wali dengan penuh kelembutan bukan barbarian.
Jika seandainya Islam itu dipahami sebagai ajaran perang dan pedang, tentu Islam tidak akan menjadi mayoritas. Kalaupun menjadi mayoritas, umat Islam di Indonesia pasti akan membabat habis kekompok minoritas non-muslim. Namun faktanya, minoritas di Indonesia masih terjaga dengan baik. Artinya, non-muslim bukanlah musuh namun saudara dalam kebangsaan.
Alhamdulillah. Mayoritas muslim di Nusantara adalah muslim sejati, muslim moderat yang mencontoh dakwah dan perilaku nabi. Bersikap toleran dan menikmati keberagaman. Berbeda dengan kelompok radikal yang mengaku muslim, minoritas namun suara paling lantang selalu mengajak perang. Memusuhi non-muslim bahkan sesama muslim dianggap kafir.
Jelaslah radikalisme bukanlah ajaran Islam. Jika ada yang mengaku muslim namun radikal, yakni gemar mengajak perang apalagi memusuhi negara, bahkan memusuhi sesama umat Islam hanya karena beda amaliyah sehingga teriak bid'ah sepanjang masa maka mereka bukanlah muslim yang benar melainkan oknum atau muslim abal-abal.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita
Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...
-
Diantara fashal dalam ilmu fiqih muamalat adalah pembicaraan panjang mengenai konsep ijaroh. Ijârah adalah (عقد على منفعة مقصودة معلومة قاب...
-
Kata fitnah berakar dari kata fatana. Ketika seseorang berkata fatantu al-fidhdhah wa al-dzahab, artinya adalah bahwa ia membakar perak...
-
Risalah ‘Amman (رسالة عمّان) dimulai sebagai deklarasi yang di rilis pada 27 Ramadhan 1425 H bertepatan dengan 9 November 2004 M oleh...
-
Suatu ketika KH. Bisri Syansuri (pendiri NU) Jombang ditanya: “Siapakah kyai yang mengajarkan kitab al-Hikam sekaligus mengamalkannya?”...
-
Pondok Pesantren hingga kini diakui sebagai pusatnya studi keislaman yang mumpuni. Paling tidak, ada beberapa faktor mengapa pesantren ...
-
Oleh: Muhammad A S Hikam "Kang, kemarin saya mampir ke makam mBah Kerto." "MBah Kerto yang mana, Gus?" "Lh...
-
Di dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai, terdapat sebuah hadits yang menyebutkan Rasulullah menyuruh para sahabat untuk berda...
-
Sebagian besar muslim di dunia sering menggelar tahlilan meski ada kelompok kecil yang begitu benci dengan tahlilan. Saking bencinya samp...
-
KH. NAWAWI BERJAN PURWOREJO "TOKOH DIBALIK BERDIRINYA JAM'IYYAH AHLI THARIQOH AL-MU'TABAROH AN-NAHDLIYYAH ( JATMAN ) " ...
-
A. Secara Etimologis (Bahasa) 1. Menurut Al-Lihyani (w. 215 H) Kata Al-Qur'an berasal dari bentuk masdar dari kata kerja (fi...
No comments:
Post a Comment