Tuesday, March 6, 2018

Khutbah Jum'at: Mengapa Bermadzhab itu Penting?


Oleh Suryono Zakka

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَلِلهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّابَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ،فَأُوْصِكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، وَاتَّقُوْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah shalat Jum'at yang dirahmati Allah

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan Pemilik dan Pencipta semesta raya. Dengan segala keagungan dan kemuliaan-Nya, marilah kita senantiasa tunduk dan patuh kepada-Nya. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan dalam hidup kita agar kehidupan kita tidak merugi. Hanya dengan berbekal iman dan takwa itulah kita akan mendapatkan kesuksesan didunia hingga akhirat.

Jamaah shalat Jum'at yang penuh berkah.

Mungkin diantara kita pernah mendengar istilah madzhab yang kata jamaknya adalah madzahib. Dan kita sebagai Aswaja mengakui adanya empat madzab yang disebut madzahib al-Arba'ah.

Madzab secara bahasa berarti tempat berlalu, tempat melangkah atau tempat berjalan. Secara istilah berarti sebuah rumusan hukum yang lengkap yang telah digali oleh imam mujtahid.

Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh kelompok yang mengajak kepada Al-Qur'an dan Hadits atau kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah namun mengkampayekan pula untuk meninggalkan madzab sehingga mereka disebut sebagai kaum anti madzhab. Kampanye kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits terlihat seolah indah dan baik namun didalamnya penuh dengan kelemahan apalagi mengajak memahami Al-Qur'an dan Hadits langsung dari sumbernya dengan hanya bermodalkan Al-Qur'an terjemahan tanpa mamakai ilmu tafsir, ilmu Al-Qur'an, ilmu Hadits dan ilmu-ilmu penting lainnya. Dalam kesempatan ini, khatib akan menguraikan alasan tentang pentingnya bermadzab sehingga ahlussunnah wal jamaah senantiasa berpegang pada madzhab hingga akhir zaman.

1. Isyarat dari Hadis Rasulullah:

Sebaik-baik manusia ialah yang berada di kurun aku, kemudian mereka yang selepas kurun itu, kemudian mereka yang mengiringi kurun itu pula. (HR. Bukhari dan Muslim)

Para imam madzhab inilah yang hidup dimasa-masa emas tersebut. Imam Hanafi dan Imam Malik masing-masing lahir pada tahun 80 dan 93 Hijrah. Imam Syafi’i (lahir 150 Hijrah) dan Imam Hambali (lahir 164 Hijrah) berada pada akhir kurun kedua hingga kurun yang ketiga.

2. Keempat Imam Mazhab tersebut telah pun mengikut Al-Qur'an dan Hadis. Mereka mengeluarkan hukum dari Al- Quran dan Hadis sehingga kita tidak boleh menganggap imam-imam tersebut tidak mengikut Al-Quran dan Hadis. Adalah kebodohan jika mengajak kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits dengan mengira bahwa imam madzhab tidak berpegang kepada Al-Qur'an dan hadits.

3. Perintah Allah agar kita bertanya kepada orang yang berilmu jika tidak mengetahui. Sebagaimana firman-Nya:

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْۤ اِلَيْهِمْ فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ۙ 

Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, [QS. An-Nahl: Ayat 43]

4. Perlu kita ketahui bahwa imam ahli Hadis seperti Bukhari, Muslim, Abu Daud,  Tirmizi dan lain-lain lagi, walaupun mereka mengumpulkan Hadis tetapi dari segi mengeluarkan hukum, mereka juga bersandar dengan Imam-Imam Mazhab. Walaupun Hadis ada di hadapan mereka tetapi mereka tetap mengikut dan berpegang dengan Imam Mazhab terutamanya Imam Syafi’i. Umpamanya Bukhari, Muslim dan Tirmizi adalah bermazhab Syafi’i.

5. Kalaulah seperti Bukhari, Muslim yang terkenal keilmuannya juga mengikut mazhab, maka tentulah ulama-ulama besar setelah 300 tahun berikutnya mengikut salah satu daripada mazhab-mazhab yang empat itu tadi. Abu Hasan Al-Asya'ari penyusun kaedah kitab usuluddin yang kita kenal dengan sifat 20 bermazhab Syafi’i; Imam Al Ghazali pengarang kitab Ihya Ulumiddin, juga bermazhab Syafi’i; Imam Suyuthi,  Syeikh Ibnu Hajar Al-Asqalani,  Syeikh Ar-Ramli, Imam Subki, Syeikh Zakaria Ansori, Imam Nawawi, Imam Sya’rani juga bermazhab Syafi’i.

6. Mengutip hasits Rasulullah yang artinya: Sesungguhnya Allah Azza Wajalla tidak akan mencabut ilmu dari seseorang manusia selepas diberikan kepadanya. Akan tetapi dicabut ilmu itu dengan diwafatkan para ulama. Setiap kali matinya ulama ikutlah ilmu itu bersamanya sehinggalah (satu ketika tiada lagi ulama) kecuali pemimpin (ulama) yang jahil. Jika ditanya hukum, mereka akan memberi fatwa tanpa ilmu, mereka sesat lalu menyesatkan orang lain. (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Dari hadits ini dapat kita pahami bahwa perkunya kita mengambil ilmu dari ulama yang telah wafat mendahului kita. Bersandari ilmunya kepada mereka. Tidak menyimpulkan hukum sesuka hati kita yang menyebabkan kesesatan.

7. Sudah menjadi sunnatullah bahwa tidak semua orang ahli agama sehingga tidak semua mampu menafsirkan Al-Qur'an kecuali hanya orang yang berilmu yang disebut dengan ulama. Tidak layak orang yang awam akan menafsirkan Al-Qur'an dan Hadits sesukanya. Tidak mungkin orang awam seperti kita hendak diajak berijtihad atau menafsirkan Al-Qur'an sedangkan ulama yang ada sekarang pun tidak boleh berijtihad kecuali berijtihad merujuk kepada ulama pendahulu yaitu imam madzhab.

8. Rasulullah saw. bersabda: Berselisih faham di kalangan umatku itu adalah rahmat. (Riwayat Al-Baihaqi).Hadis ini membuktikan bermazhab itu dibenarkan. Berselisih faham di sini adalah berselisih faham tentang furu’iyah atau urusan yang tidak penting seperti menggerakkan tangan saat tahiyat bukan perkara usuliyah atau pokok seperti ibadah dan keimanan. Berbeda pendapat dalam soal hukum-hukum furu’iyah hingga menimbulkan bermacam-macam aliran mazhab fikih adalah rahmat. Siapapun boleh memilih madzab yang empat karena keempat madzab tersebut diakui oleh Ahlussunnah Waljamaah.

8. Kalaulah kita hendak menyuruh semua umat Islam supaya tidak bermazhab dan setiap orang diwajibkan berijtihad atau mengeluarkan hukum-hukum dari Al-Qur'an dan Hadis maka pasti umat Islam akan kacau balau merusak hukum karena bukan ahlinya.

10. Kita lihat orang-orang yang mengajak untuk tidak bermazhab ini adalah kelompok mutaakhhirin yaitu kelompok pendatang baru. Bermula daripada Ibnu Taimiyah yang hidup lebih kurang 700 tahun yang lalu jauh setelah imam madzah hidup. Dia bukan ulama yang berada sekitar 300 tahun selepas Rasulullah.  Kemudian kampanye anti madzab disambung oleh muridnya yang bernama Ibnu Qayyim Al-Jauziyah hinggalah mama-ulama di kurun kedua puluh ini seperti Muhamad Abduh, Jamaluddin Al Afghani, Rasyid Ridha dan dilanjutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Mereka ini hidup di luar dari zaman 300 tahun selepas Rasulullah saw. Jadi tidak ada isyarat dari Rasulullah bahwa mereka ini patut menjadi panutan.

11. Ulama-ulama mazhab terutamanya Imam Mazhab yang empat, bukan saja ilmunya hebat, tetapi pribadinya yang juga begitu hebat begitu wara', begitu bertakwa kepada Allah dan berakhlak yang luhur sebagaimana nabinya. Ulama mensyaratkan, orang yang boleh diterima ijtihadnya atau pandangan hukumnya bukan dinilai tinggi ilmunya saja, tetapi juga dipastikan yang soleh, wara' atau bersahaja, dan bertakwa. Jadi imam madzhab adalah teladan bagi umat Islam dalam segala hal. Teladan ilmunya dan teladan akhlaknya.

12. Walaupun ada kelompok yang mengampanyekan tidak perlu ikut mazhab, cukup hanya ikut Al-Quran dan Hadis saja, tetapi pada hakikatnya mereka juga bermazhab yaitu madzhab gurunya atau orang yang menjadi idolanya hanya saja mereka enggan untuk mengakuinya. Kerana golongan yang anti  bermazhab itu bukan semuanya ulama atau ahli agama dan pastilah mereka bersandar dengan tokoh yang menolak madzhab. Maka tokoh idola tempat mereka bersandar itulah sebenarnya imam mazhab mereka.

Demikian khutbah yang khatib sampaikan. Semoga kita selalu istiqamah bersama ulama yakni ulama yang lurus sebagaimana ulama madzab yang telah diakui oleh Ahlussunnah Wal jamaah yakni Imam Maliki, Hanafi, Syafi'i dan Hanbali. Tidak terprovokasi kepada kelompok yang mengajak untuk menjauhi ulama yang lurus. Selamat dari kelompok yang mempertentangkan antara imam madzhab dengan Al-Qur'an dan Hadits, membenturkan antara ulama, kiai dengan nabi. Mereka adalah pedoman umat Islam yang tidak layak untuk dipertentangkan satu sama lain.


بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ


No comments:

Post a Comment

Khutbah Jum'at: Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita

Bulan Muharram Sarana untuk Mengevaluasi Tradisi Kita Khutbah 1 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ ...